21 Apr 2024



Bagaimana jadinya kalau Amerika bukanlah negara serikat seperti sekarang, tetapi sebuah monarki dengan raja sebagai pemimpinnya? Akankah sejarah menjadi berbeda? Itulah latar belakang dari seri buku ini.

Hal itu sudah pasti, tetapi bukan hal-hal sejarah yang berat yang dibahas di American Royals. Seperti drama Korea, perubahan sejarah ini menjadi latar belakang untuk drama dan intrik dari remaja-remaja yang berada di lingkaran monarki Amerika.

Nonetheless, seri buku ini berhasil bikin saya baca terus sampai selesai. Sebuah pencapaian mengingat saya suka malas di tengah jalan.

Saya membeli buku ini di Kindle store karena lagi ada book deal. Tiga-empat dolar dapat dua buku, mengapa tidak?

Ternyata, pancingan dari Amazon berhasil, karena saya meneruskan membeli dua buku sisanya. Ya, ada empat buku dari seri yang ditulis oleh Katharine McGee ini. Rilisan Indonesianya juga sudah terbit, jadi kalau penasaran dengan versi Bahasa Indonesianya, bisa beli di sini.

Buku pertamanya berjudul American Royals, dan tiga buku lanjutannya masing-masing berjudul Majesty, Rivals, dan Reign. Selain itu ada satu novela prekuel berjudul Inheritance. Seri ini baru saja tamat 2023 kemarin. Beruntung sekali saya baca pas serinya udah tamat, jadi nggak penasaran, hahaha.

Plot

Di latar belakang alternatif ini, dunia berisi banyak kerajaan dengan berbagai macam pemimpin. Selain Inggris, Perancis, Austria, dan banyak negara lainnya, adalah negara monarki absolut dengan raja atau ratu sebagai pemimpinnya. Tidak terkecuali dengan Amerika, dan calon pemimpin yang berikutnya adalah Putri Beatrice.

Putri Beatrice adalah calon orang nomor satu di Amerika, tapi peran itu tidaklah semenyenangkan yang dipikirkan orang. Orangtuanya meminta dia untuk menikah di usia muda (yup, plot yang sangat familier, kan?), dan dia sama sekali nggak pernah jatuh cinta. Lebih parah, ketika akhirnya dia jatuh cinta, dia jatuh cinta pada orang yang tidak seharusnya.

Tidak hanya Beatrice, orang-orang di sekitar Beatrice juga memiliki masalahnya masing-masing. Samantha, adik perempuannya, terjepit di peran sebagai anak tengah yang harus menjaga sikap namun tak akan diperhitungkan sebagai pewaris karena ada si bungsu, Jefferson. Sementara itu, Jefferson terlibat hubungan aneh dengan Nina, teman masa kecilnya, dan Daphne, mantan pacarnya yang sepertinya belum rela putus.

Buku ini berputar dengan empat tokoh sebagai sentral perspektifnya: dua orang dari keluarga kerajaan, dan dua orang yang ada di luar, tapi terikat dengan keluarga tersebut. Sesuai dengan settingnya yang sangat grand, tentu banyak banget drama yang muncul, mulai dari romansa dan juga (sedikit) intrik kekuasaan.

Dengan ketebalan yang lumayan, empat buku cukup untuk mengeksplorasi karakter-karakter tersebut, meskipun kayaknya masih bisa dikembangkan lebih baik. Awal baca buku pertama saya nggak terlalu tertarik, tapi tanpa sadar lama-lama saya jadi suka beberapa karakter yang ada di buku, dan jadi penasaran nasib apa yang menanti mereka berikutnya.



Hal yang saya suka dari seri ini

Plot yang Terkoneksi

Perspektif bukunya berganti-ganti antara empat karakter: Beatrice, Samantha, Nina, dan Daphne. Biasanya buku seperti ini cukup bikin lelah, tapi karena plotnya terus maju, jadinya tahu-tahu bukunya beres. Memang sih ada bagian yang bikin saya bosan: Kalau sampai di tokoh yang lagi nggak saya pedulikan arc-nya (haha), bacanya jadi lebih cepat.

Drama, Drama, dan Drama

Bahan bakar utama buku ini adalah drama! Pokoknya segala klise dari plot khas dramarama ada di sini. Mulai dari ada yang sakit, ada yang koma, perjodohan, pura-pura pacaran, cinta segitiga, cinta terlarang, lengkaplah.

Pas awal jujur saya ngerasa cringe, apalagi karena penyampaikan straight dan gak neko-neko. Ternyata, hal ini juga yang bikin saya jadi enjoy, karena ada familiarity. Kita tahu biasanya cerita begini arahnya ke mana, tapi pengarang juga tetap memberikan bumbu sehingga kita penasaran dengan akhir ceritanya.

Pertumbuhan Karakter

Yup! Dengan empat perspektif dan plot yang penuh drama, saya nggak nyangka bisa jatuh cinta dengan lebih dari satu karakter (utama dan pendukung). Buku pertama yang alurnya cukup lambat bikin saya kecapean, jujur.

Untungnya, masuk buku kedua, pace-nya membaik dan bikin saya penasaran dengan apa keputusan yang akan diambil oleh tokoh-tokohnya. Mereka belajar dari hal yang dilalui, atau melakukan kebodohan lainnya, but that’s what makes them human (despite the fact ceritanya super outrageous).

Hal yang saya kurang suka dari seri ini

Karakter Dangkal

Plot yang luarbiasa drama kayaknya nggak sebanding dengan pendalaman karakternya. Itu juga sih yang bikin saya kecapean baca buku pertama, karena kepala saya terus berharap dan berekspektasi lebih. Setelah saya me”ringan”kan isi kepala—alias berpikir buku ini adalah opera sabun *but in text—*saya bisa lebih menikmati.

Still, bagusnya sih bisa lebih baik lagi yaak. Butuh buku kedua untuk bisa peduli pada karakter, karena di buku pertama kurang, padahal bukunya sudah tebal. Sedangkan yang bikin kita semangat membalik halaman buku, ‘kan, salah satunya adalah karena kita memedulikan karakter tersebut.

Latar Belakang Pajangan

Dengan latar belakang sejarah yang berubah, saya sih berharap lebih banyak yang dieksplor dari aspek ini. Tentang aspek pemerintahan, hubungan antar negara, dan kultur masyarakat. Kultur kerajaan Amerika ini diambil dalam bentuk pastiche dari kerajaan yang ada di Eropa, namely Inggris dan dan Perancis. Sisanya ya tidak ada keunikan lain.

Karena plot utama buku ini adalah romansa, kadang latar belakang hanya terasa sebagai “tempelan”: kesulitan hidup yang mereka alami bisa dialami oleh remaja biasa di tempat lain, cuma yang ini duitnya lebih banyak dan diikuti wartawan. Sayang sih, tetapi hal baiknya, buku ini cenderung lurus dan mudah untuk dicerna tanpa berpikir.

No-brainer Research

Ada yang bilang kalau buku ini adalah tiruan-lebih-murah dari serial TV The Royals. Mulai dari premisnya yang sama sampai struktur tokohnya pun sama. Saya nggak pernah nonton, jadi masih bisa baca dengan curiosity. Selain itu, marketing dan publisitas buku ini kayaknya juga agak mirip dengan Crazy Rich Asians (covernya juga mirip, yaaa). Ceritanya beda sih, tapi mirip, alias konflik dan intrik high society. Kalau hal itu juga bukan masalah, buku ini tetap bisa dinikmati.

Satu hal yang cukup membuat saya bete adalah konsistensi pengarangnya melakukan kesalahan dalam menuliskan nama Asia. Ada nama Jepang, Cina, dan Korea—dan semuanya salah penulisan secara budaya. Ada karakter Jepang yang terdiri dari dua given names, ada beberapa karakter Cina dengan nama yang mirip-mirip (kayak nggak ada nama lain aja), dan nama Korea yang sebenarnya tidak ada.

Sangat-sangat disayangkan, padahal kalau mau tahu struktur nama yang benar, pengarangnya tinggal cari di Google!

Final Verdict

Short and simple: this series is a guilty pleasure. Kalau kamu suka plot ala sinetron yang dipadukan dengan keseruan chicklit/teenlit, maka inilah buku yang cocok. (me!). Waktu baca buku ini, nggak usah mikir terlalu jauh dan mikir kenapa begini kenapa begitu. Kalau soal bagus, masih banyak buku yang lebih bagus, tapi buku ini seru buat dibaca pas waktu luang.

This book is for fun, dan ketika dibaca dengan perspektif tersebut, ceritanya pun akan terasa lebih menyenangkan untuk dibaca. Buat yang nggak masalah dengan spoiler, saya punya notes lengkap pengalaman baca buku ini di library.

Salam,

Mega

14 Apr 2024

Pernah mengalami produk skincare yang habis secara bersamaan? Nah, itu yang saya alami kemarin. Pelembap habis bis, sabun cuci muka yang biasa dibawa travel hampir habis, dan sunscreen tinggal sedikit lagi.

Kalau saya tidak berencana bepergian, tentu saya tenang-tenang saja. Namun, kemarin adalah waktu jelang mudik dan masa-masa di mana ekspedisi pengiriman sudah mulai padat karena mendekati idulfitri. Karena nggak bisa memperkirakan apakah paket saya akan datang tepat waktu, saya memutuskan untuk membeli yang habis di tempat mudik saja.

Tahun ini saya kembali mudik ke kampung suami di Muara Bungo—sayangnya, karena kehabisan tiket, kami harus ambil pesawat ke arah Jambi kota. Syukurnya, ini jadi memberikan saya pilihan untuk pergi ke toko skincare yang agak besar. Maklum, Muara Bungo kecil, jadi pilihannya nggak begitu banyak.

Di Jambi Town Square kebetulan ada Sociolla—tidak begitu besar, tapi isinya lumayanlah. Merek True to Skin ini yang pilihannya cukup lengkap dan ada diskon yang lumayan; jadilah saya ambil. Kebetulan Lia juga sempat nyebut soal True to Skin ini di postingan skincare saya yang lalu, jadinya pas banget untuk nyoba.

Tentang True To Skin

Dikutip dari beautyjournal, True to Skin adalah brand skincare yang baru muncul di tahun 2020. Maklum, saya bukan beauty hunter yang doyan mencoba brand baru, jadilah baru kepo sekarang.

True to Skin merupakan brand perawatan kulit lokal minimalis yang mengusung konsep bahan aktif tunggal yang dipadukan dengan bahan alami, sehingga menghasilkan formulasi yang lembut dan aktif. Brand ini juga menjamin bahwa dia vegan, no animal tested, halal, dan cocok digunakan untuk kulit sensitif maupun ibu hamil.

Oh, nice! Cuaca Jambi yang panas emang kadang suka bikin kulit saya berulah. Kadang kulit jadi sensitif dan mudah terbakar karena cuaca panas. Memilih merek yang simpel ingredients -nya adalah a perfect choice.

Nah, berikut ini adalah beberapa yang saya coba:


Matcha Oat Gentle Cleanser

buy at shopee or tokopedia

A gentle facial wash that contains skin-loving ingredients that cleanse your face without drying out your skin! Leaving your face naturally hydrated and supple.

Face wash ini yang sempat direkomendasikan sama Lia. Teksturnya lain dari yang lain: seperti teh, sesuai dengan kandungannya yaitu teh hijau. Yang saya suka, pembersih ini tidak menggunakan pewangi tambahan. Awalnya bertekstur gel, lalu saat diusap ke wajah berubah jadi busa. Walaupun rasanya ringan, tetap terasa bersih.

Dengan formula yang lembut dan tidak mengeringkan, face wash ini meninggalkan kesan yang baik di kulit saya. Might re-purchase later, bergantian dengan face wash lain yang saya incar untuk dicoba juga.

πŸƒMatcha / 🌾Oat / πŸ€Heart Leaf / πŸͺ΅Licorice / 🫧Collagen


Azulene Oat Barrier Moisturizer Cream

buy at shopee or tokopedia

A moisturizer with a cream texture that can soothe, moisturize and strengthen the skin barrier.

Warna pelembapnya cukup unik, biru lembut. Katanya ini adalah warna kandungan alami dari guaiazulene yang menjadi salah satu hero ingredients. Seperti cleanser -nya, pelembap ini terasa no hassle, does the job well: ringan, mudah menyerap dengan tekstur yang lembut.

Mengingat cuaca Jambi panas banget, pelembap ini lumayan menangkal kekeringan di kulit mukaku. Pas dipake abis kena panas, ada kerasa cekit-cekit pedih, tapi habis itu kulit jadi enakan dan rasanya kenyal. Sebenernya pengen pake ini lagi, tapi harganya cukup lumayan untuk isi yang hanya 30gr. Jadi mau beli lagi pelembap yang harga per gr-nya lebih murah, atau beli pas harga promo. (Kebetulan di tokopedia lagi promo nih).

🌼 Guaiazulene / 🌾 Oat Extract / πŸ‘ Ceramide / ☘ Cica Water /πŸ’§ Beta Glucan / 🌧 Triple Hyaluronic Acid


Sunfriends Shooting Sunscreen Gel SPF 50 PA+++

buy at shopee or tokopedia

*UV protection, lightweight, fast absorption, no white cast, no comedogenic. *****

Buat sunscreen sebenernya saya lumayan pilih-pilih. Jarang ganti dan hanya berani coba merek yang sudah terkenal. Sempat mencoba merek baru beberapa kali ujungnya kecewa, jadi belum berani coba merek lain lagi. Sunscreen ini diambil karena sunscreen saya bener-bener habis dan harus punya back-up mengingat lokasi yang panas.

Memang kalau nggak punya ekspektasi apa-apa, pas ketemu yang bagus tuh jadinya seneng banget. I mean, sunscreen ini tuh ringan, nyaman, dan mudah menyerap! Fix mau repurchase lagi karena emang senyaman ituuu. Biasanya kalau yang ringan tuh suka licin, tapi ini berasa enak. Selain itu tidak menimbulkan whitecast di wajah.

Pas cuaca panas banget emang kerasa agak “mencair” sih, jadi nggak boleh pakai langsung keluar (yah, sesuai waktu ideal penggunaan sunscreen, minimal setengah jam sebelum). Setelah dari Jambi, saya akan coba pakai untuk keseharian di Bandung, dan akan repurchase lagi kalau performanya oke dan habis. Happy to find this gem! Pantaslah sunscreen ini termasuk produk unggulan mereka yang laku sampai ribuan buah.

πŸ›‘️4X UV Filter & SPF 50 PA +++ / πŸ”¬In Vivo & In Vitro Tested / ☁️ Lightweight / 🌬️ Fast Absorption

Final Verdict

Sebagai orang yang udah lewat fase eksplorasi skincare, saya hanya coba-coba skincare sesekali saja. Satu produk habis, baru coba lagi. Itu sebabnya saya nggak akan cocok jadi reviewer atau skincare/beauty blogger karena perputaran produknya lambat banget wkwkwkw.

Kesempatan ini adalah kesempatan yang jarang terjadi—alias nyobain merek baru tiga produk sekaligus. Semua tidak akan terjadi kalau kepepet. Dan saya seneng deh ketemu merek ini, karena lokal, lembut, dan masih cukup terjangkau.

Saya nggak perlu janji-janji aneh untuk skincare —melindungi dan menjaga, itu saja sudah cukup. True to Skin punya misi yang sejalan dengan tipe skincare yang saya cari: sederhana dengan bahan aktif minimalis. Terlebih ini adalah merek lokal, yang membuat saya tidak perlu kesulitan cari-cari merek luar lagi. Can’t be more happy!

True to Skin

instagram: @truetoskinofficial / shopee / tokopedia


if you love my writings, consider sign-up for my email newsletter to get monthly recap and more. πŸ’›

7 Apr 2024


Dua tahun di Cimahi, saya belum banyak mengeksplor tempat ini. Salah satu faktornya adalah sibuk (klasik), alasan sebenarnya adalah malas. Jalan-jalan di Cimahi relatif kecil dan sempit, sehingga kurang ramah untuk kendaraan roda empat. Selain itu, selalu ada perasaan “ah, lebih lengkap di Bandung”. Jadi kami jarang sekali main di Cimahi, kecuali yang ada di daerah Cibabat—jalan protokol utamanya.

Tahun ini, kami akhirnya punya motor lagi, setelah yang lama direlakan saat masa pandemi. Lucunya, kami pergi ke tempat ini saat lagi pakai mobil karena mau coba tempat cuci mobil di dekat situ. Yah, to justify, tempat cuci mobil ini memang baru kami temukan setelah eksplor pakai motor, sih. 🀣

Sekilas Bento Kopi

Di post blognya kemarin, Kang Ady bertanya apakah di Cimahi banyak kafe. Jawabannya: banyak! Salah satunya Bento Kopi ini.

Bento Kopi adalah kafe slash restoran keluarga yang terletak di Jalan Pesantren, sebuah jalan kecil yang selalu ramai karena merupakan jalur alternatif untuk ke Kota Bandung. Belakangan, saya baru tahu kalau Bento Kopi adalah sebuah kedai kopi berjaringan yang outletnya tersebar di seluruh pulau Jawa.

Untuk dibilang “kedai” rasanya memang kurang cocok; tempatnya luas banget, cocok untuk dijadikan gathering keluarga atau reunian. Bahkan pihak Bento Kopi menyediakan paket pernikahan. Tempatnya memang cocok untuk venue pernikahan privat, lengkap dengan panggung outdoor yang di malam hari menyediakan live music. Tempat parkir juga cukup luas.

Saat kami ke sana, banyak banget yang lagi ngumpul-ngumpul, sepertinya reunian. Untuk bulan Ramadan ini Bento Kopi punya tagline “Bukber Venue”. Cocok, kan? πŸ‘πŸ»

What We Order

Nah, ini dia. Meskipun namanya Bento Kopi, menu yang menonjol adalah menu cemilan dan makanan berat yang berderet. Pilihan “kopi” yang dimaksud adalah menu “kopi gemes” dengan tambahan sirup hazelnut, moka, coklat, almond, dan sebagainya. Kopi tradisional yang ditawarkan adalah kopi tubruk dan kopi susu panas.

Karena mampir ke sana cuma iseng, sudah tentu kami beli kopi dan cemilan saja. Kopi hazelnut dan kopi susu standar jadi pilihan—plus sepiring pisang goreng.

Sesuai dugaan, rasanya manis. 😁 Bahkan buat saya yang masih suka kopi manis, ini manis banget. Rasa kopinya nggak terasa, baik di lidah maupun aromanya. Tipis-tipis saja. Otomatis saya minumnya cepet banget karena kebetulan cuaca hari itu sedang panas. Untuk pisang gorengnya enak, tapi tidak istimewa.

Buat saya, kopi ini rasanya lebih mirip susu dengan sedikit rasa kopi. Karena sudah kenyang, sayang sih nggak sempat mencoba menu utamanya. Tapi saya lumayan kecewa karena kopinya nggak sesuai ekspektasi. Apa saya salah pesan varian kopi ya? Ha ha ha... bukannya nggak enak sih, cuma beda aja dengan harapan.

Kalau dari awal memang mikir minum gemes-gemes, minuman ini enaaak, manis dan segar. πŸ’ƒ

Final Verdict

Hmmm, simpulan kami, di sini bukan tempat minum kopi “serius”. Saya nggak tahu, apakah ini hanya cabang Cimahi, atau memang style-nya seperti ini? Sepertinya yang kedua lebih tepat.

Istilah “Bento Kopi” yang menyelip di nama tempat ini sejatinya adalah “Ngopi” as in ngumpul-ngumpul. Kalau mau cari kopi “serius” dengan berbagai pilihan olahan dan biji, jelas bukan di sini tempatnya.

Poin plusnya, harganya tidak mahal (di bawah lima puluh ribu rupiah sudah bisa makan dan minum) dan cocok buat kumpul-kumpul segala kalangan. Tempatnya luas; sirkulasi udara baik, lengkap dengan area outdoor-indoor dan parkiran yang cukup. Kemarin pun saat lewat, tempat ini penuh dengan remaja-remaja yang berbuka bersama.

Jadi? Saya kali ini ngga akan promosikan tempat ini untuk minum kopi, melainkan promosikan tempat ini buat private wedding venue. πŸ˜†

Bento Kopi Cimahi

Jl. Pesantren (Hr. Danurasmaya), Cibabat

instagram: bentokopi.cimahi

31 Mar 2024


Tempat yang ketemu tidak sengaja kadang punya keistimewaan tersendiri. Kafe ini adalah penemuan dari akhir tahun 2022. Maklum, karena sempat hiatus ngeblog, jadinya baru sempat di-share sekarang. Sampai hari ini, kafe ini masih menjadi salah satu dessert cafe yang populer di Bandung!

So here’s the thing —Abang bukan tipe explorer, dan lebih suka mencoba tempat yang tried and tested, atau paling tidak sudah terjamin terkenal. Saya lebih suka coba-coba, tapi mager juga kalau endingnya Abang bilang gak enak. Plus, Bandung ini benar-benar kota sejuta kafe (nggak bohong loh). Setiap ngedip ada tempat baru, semua berlabel viral dan semua dipromosikan oleh influencer. Saya nggak tahu mana yang betulan enak atau cuma enak karena dibayar. Jatuhnya malah jadi malas mencari. πŸ˜…

Nah, kami sendiri nggak sengaja ke sini karena servis mobil antri, dan baru beres siang. Karena bingung harus ngapain sambil menunggu, jadinya jalan kaki ke tempat sekitar. Kebetulan daerah ini juga dekat dengan kontrakan saya dan Abang waktu belum pindah ke rumah sekarang. Saat berbelok ke jalan kecil dari sisi jalan protokol, kami menemukan tempat ini.

Tema kafe-nya adalah Korean Dessert Cafe—dan sesuai temanya, dekorasinya manis! Estetikanya clean and cute. Banyak spot yang mudah jadi tempat foto, alias instagram-able. Kafe ini juga rutin mengganti seasonal decor-nya, misalnya ketika Natal dan Valentine. Menyenangkan dan tampilannya jadi nggak membosankan. Sayang kamera saya nggak bisa menangkap dengan baik, jadi mendingan cek instagramnya di bawah.

Anyway, tempatnya kecil, jadi nggak bisa untuk berkunjung ramai-ramai. Cocok buat ngobrol yang niatnya santai nan cozy. Di bagian luar juga ada area duduk outdoor yang lebih besar dari area indoornya.

Sajian utama kafe super gemes ini tentu saja dessert, khususnya tiramisu. Ada beberapa jenis tiramisu dan mereka hanya menyediakan opsi dine-in. Selain itu ada berbagai macam cake, pastry, dan pie. Orang yang suka dessert pasti seneng banget ke sini, karena dimanjakan dengan tampilan visual cantik dan jenis yang beragam.

Oh ya, kafe ini juga berdampingan dengan tempat makan wagyu dan sajian gurih asin lainnya. Sepertinya pemiliknya sama. Jadi di kafe ini, bisa pesan menu makanan berat juga. Sayangnya saya belum sempat mencoba menu gurihnya, padahal katanya enak juga, tuh.

Menu yang Kami Pesan


Tiramisu

Saat tahu inilah menu andalannya, tentu saja kami tidak mau ketinggalan. Apalagi karena menu tiramisu ini hanya bisa didapatkan dengan dine-in, tidak bisa takeaway. Saya suka nih, karena ini berarti Peach of Cake sangat percaya diri dengan produknya.

Nggak salah kalau ini produk andalan, karena rasanya enak banget! Aroma kopi yang lembut berpadu dengan rasa creamy keju **yang tidak bikin eneg sama sekali. Jenis kuenya bukan yang terlalu manis, bahkan bisa dibilang tidak manis, tapi terasa seperti sebenar-benarnya dessert.

Meskipun ukurannya kecil, rasanya kenyang ketika makan ini. Belum lagi pengalaman makannya juga menyenangkan—sebelum kita makan, kita harus menuangkan dulu sausnya.



Slice of the Day: Strawberry Cheese Cake

Ini dia yang menarik lainnya: slice if the day! Kalau restoran lain ada soup of the day atau salad of the day, Peach of Cake punya rotasi cake yang berganti-ganti. Tapi tenang, untuk yang jadi menu favorit, cake -nya tersedia selalu, seperti Strawberry Cheese Cake 🍰 ini.

Saya termasuk orang yang nggak begitu suka cake; tetapi pengecualian untuk cake yang ini. Lagi-lagi kesannya sama: Rasanya segar, creamy tapi tidak bikin eneg. Cake yang satu slice -nya besar bisa saya habiskan tanpa terpaksa. Kuenya fluffy dan wangi. Best!



Rose Lemonade

Karena waktu itu saya belum berani minum kopi, saya memesan mocktail yang ada di deretan menu. Rose Lemonade ini, sesuai namanya, adalah campuran segar lemonade dengan warna pink dan sedikit aroma bunga 🌸. Rasanya manis banget, jadi sebaiknya menunggu sampai esnya sedikit mencair, baru diminum.

Cappuccino by SLKV

Tidak ketinggalan, di Peach of Cake juga ada menu kopi. Menunya standar, seperti americano, latte, V60, dan cappuccino. Sayangnya pengalaman kami kurang oke—menurut Abang, rasanya seperti kopi yang diguyur air begitu saja alias nggak berasa.

Karena belum ke sana lagi, jadi belum bisa mencoba kopinya lagi. Semoga saja sudah lebih baik kopinya. Entah kami yang kebetulan nggak beruntung, atau memang kopinya kurang enak? πŸ˜† Buat saya wajar sih kalau kopinya nggak enak-enak banget, lha itu kan kafe dessert.



Overall Impression

Walaupun belum sempat ke sini lagi, saya tahu bahwa tempat ini pantas didatangi lebih dari sekali. Selain menunya yang lezat dan beragam, dekor kafenya yang selalu diubah membuat tempatnya tidak membosankan meskipun sempit. Tidak heran sampai saat ini Peach of Cake selalu ramai dengan pengunjung. Saran saya, kalau datang mungkin lebih baik hari kerja, atau datang lebih pagi agar tidak terlalu penuh.

Peach of Cake

Jl. Karangsari No.15A, Pasteur, Kec. Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat 40161

Instagram

if you love my writings, consider sign-up for my email newsletter to get monthly recap and more. πŸ’›

24 Mar 2024

matahari terbit di ujung jalan rumah.


Sudah dua tahun lebih sedikit kami menempati rumah ini. Setelah perjuangan berhutang alias KPR, lalu menempati, menabung lagi untuk isi, dan sebagainya, sekarang bisa dibilang kami sudah cukup settle, alias terbiasa. Terbiasa dengan jaraknya yang agak jauh, terbiasa dengan lingkungan sekitar, dan juga terbiasa dengan sedikit titik bocor di sana-sini. Ha ha ha…

Masih banyak PR, tentu saja. Mulai dari garasi yang perlu direnovasi sampai pagar yang belum berdiri. Isi rumah juga masih banyak yang harus dilengkapi. Tapi motto kami, slow but sure. Menabung pelan-pelan untuk membeli big ticket items yang diinginkan; sambil berjibaku dengan perbaikan dan penambahan.

Perumahan kami bukan perumahan subsidi, tapi juga bukan perumahan elit. Saya biasa menyebutnya sebagai “perumahan kelas menengah mepet” alias nanggung: ke atas enggak, ke bawah juga enggak. Sesuai kemampuan aja sebenarnya; tapi dengan fasilitas yang ada, tentu kami harus menyiapkan beberapa biaya tambahan.

Mengapa?

Sebelumnya saya sudah cerita panjang-lebar perjalanan kami menemukan rumah ini di postingan yang lalu. Nah, selain uang muka, biaya KPR, dan tentu saja kemampuan cicilannya, rumah kelas menengah bukanlah rumah yang bisa langsung ditempati. Kadang ada bonus-bonus yang diberikan perumahan, tetapi hal tersebut tidak sama rata di seluruh perumahan dan bukan kewajiban.

Setelah mengobrol dengan teman-teman yang juga sesama pejuang KPR, terutama yang berada di kelas perumahan yang sama, ternyata kebutuhan tambahan rumah baru itu nggak jauh beda. Karena itu saya putuskan untuk catat di sini sebagai lanjutan dari seri Abang dan Neng menjadi petualang KPR, hahaha.

Hal ini hanya berlaku di rumah berstatus baru dari developer untuk perumahan kelas menengah (terutama yang mepet), terutama di wilayah Bandung Raya ya. Berbeda tipe perumahan, beda wilayah, biasanya kebutuhannya sedikit berbeda, tetapi pada umumnya kita juga perlu menyiapkan biaya untuk hal-hal berikut:

Sumber dan Tangki Air

Selain lokasi, air adalah faktor utama penentu perumahan. Sebelum memutuskan membeli rumah, tentu kita harus tahu dari mana sumber air utama untuk rumah tersebut. Untuk di wilayah Bandung raya, biasanya ada beberapa pilihan:

  1. Menggali sumur sendiri
  2. Sumber air yang dikelola perumahan
  3. PDAM

Perbedaan sumber ini akan menghasilkan biaya lanjutan tersendiri. Kalau opsi-nya nomor satu, sudah pasti kita harus keluar uang lagi untuk memanggil jasa gali sumur yang dihitung per meter. Untuk nomor dua dan tiga, yang kita harus pastikan adalah ketersediaan tangki atau tandon air. Apalagi mengingat ada kemungkinan layanan tersebut bisa berhenti sewaktu-waktu; karena masalah teknis atau lainnya.

Biasanya, perumahan memberikan satu tangki/tandon air, sebagai bagian dari spesifikasi rumah maupun bagian dari gimmick. Perumahan saya juga memberikan bonus tandon dengan ukuran 500l. Nah, ukuran 500l ini termasuk kecil, apalagi kalau penghuni rumahnya lebih dari dua orang.

Selain tangki 500l dari perumahan, kami menambahkan ground tank (tangki bawah tanah) dengan kapasitas 1000l. Pemasangannya dilakukan bersamaan dengan proses pembangunan, sehingga tidak perlu bongkar-bongkar.

Dengan total kapasitas 1500l, tangki ini lebih dari cukup untuk kebutuhan kami berdua. Tercatat beberapa kali kasus air macet karena masalah teknis, kami tidak pernah mengalami benar-benar kehabisan air, karena masih ada cadangan di ground tank.


Tambahan Ruang Belakang (Benteng)

Rumah kelas menengah biasanya memiliki tanah berukuran kecil—mulai dari 60 meter sampai 120 meter. Untuk tanah di atas 72 meter, ada space untuk halaman belakang; tetapi karena sempit, biasanya tempat ini berbatasan langsung dengan tetangga. Dengan kata lain, kalau buka pintu belakang, udah bisa halo-halo gitu sama tetangga belakang (dan jemurannya).

Developer biasanya tidak menyediakan fasilitas benteng pembatas ini saat kita membeli rumah, sehingga kita harus mengurusnya sendiri. Ada yang bawa tukang sendiri, bisa juga bekerjasama dengan tukang yang mengerjakan rumah tersebut. Biayanya beragam dan hitungannya mulai per meter. Kalau lebih teliti lagi bisa juga beli bahan sendiri, kemudian menggunakan tukang yang dibayar harian.

In our case, benteng dibuat langsung saat pembangunan rumah, karena kami deal dengan tukang yang mengerjakan rumah kami. Jadi rumah nggak berantakan dua kali. Oiya, karena waktu itu rasanya rumah bakal sempit, kami nggak menyediakan outdoor space di belakang. Sesuatu yang sedikit saya sesali soalnya sebenernya masih bisa disisakan barang satu-dua meter hahahaha. Tapi ya udah, nanti aja benerinnya kalau udah ada rezeki lagi.

Keperluan Kamar Mandi

Kenapa keperluan kamar mandi? Karena kamar mandi adalah tempat yang penggunaannya relatif tinggi. Sehari minimal dua kali mandi, ditambah keperluan lain di toilet, belum lagi kalau anggota keluarganya lebih dari dua. Menggunakan sanitary yang baik hukumnya wajib supaya nyaman dan terutama mudah membersihkannya.

Nah, masalahnya adalah, kebanyakan developer memberikan fasilitas “seadanya” untuk kamar mandi ini. Entah sambungan-sambungan yang murah, toilet yang murah, atau showerhead plastik. Mereka semua relatif nggak tahan lama. Bisa saja mengganti di kemudian hari, tapi akan merepotkan karena penggantian ini membutuhkan pembongkaran dinding yang akan menghabiskan waktu dan biaya. Untuk rumah ready stock hal ini memang tidak terhindarkan; tetap, baiknya dilakukan sebelum rumah benar-benar ditempati.

Apabila rumahnya jenis inden—alias dibangun setelah akad—maka keperluan ini bisa lebih fleksibel. Beli duluan, lalu berikan ke tukang yang mengerjakan. Apabila membutuhkan pemipaan khusus atau lainnya, seperti jalur air panas, maka hal itu juga bisa direncanakan terlebih dahulu. Jadi saluran airnya bisa lebih rapi.

Waktu awal pembangunan, dana kami cukup terbatas, jadi kami memprioritaskan showerhead. Masih ada pe-er ganti toilet dengan yang ukurannya lebih besar, tapi ya itu, udah males mikirin bongkarannya duluan dan biayanya hahahah. Mungkin nanti kalau keperluan-keperluan urgent lainnya sudah terpenuhi.

Oh iya. Karena kami memang berencana memasang pemanas air, maka jalur pipa dan jalur gasnya sudah diset lebih dulu. Saat ini, meskipun menggunakan pemanas air gas, kamar mandi tetap rapi dan tidak bau gas, karena gasnya tetap ditaruh di dapur.

Showerhead yang kami pakai sekarang, merek Wasser, sudah bertahan hampir tiga tahun dan kualitasnya baik. Meskipun mudah dibersihkan, untuk mencegah jamur air, sebaiknya selalu dilap segera setelah dipakai. This will keep your showerhead shinier for a long time—kami selalu punya handuk kecil tergantung di gantungan handuk untuk ini.

Three-way showerhead, Wasser: buy here

Rinnai water heater: buy here


Pagar dan Kanopi

Ini benar-benar pekerjaan besar—dan mahal—karena harga besi selalu naik. Dua hal ini adalah yang masih menjadi pekerjaan terhutang dari rumah kami. Ada perumahan yang memberikan bonus kanopi, tapi lebih banyak yang tidak. Ada juga perumahan yang melarang untuk membuat pagar, atau membolehkan di tahun kesekian. Sebaiknya dicek dulu ke developer.

Di perumahan saya, orang bebas membuat pagar dan kanopi. Atas alasan prioritas, kami memutuskan membuat kanopi terlebih dahulu. Itu juga nabungnya butuh waktu lama sehingga baru bisa terlaksana di akhir tahun 2023. 😁 Seperti biasa, Abang tipe yang nabung agak lama gak masalah selama dapat material yang dimau, jadilah kami bertahan tanpa kanopi demi bisa beli besi bagus hahaha.

Jenis kanopi sendiri bermacam-macam dengan berbagai tingkatan biaya, di antaranya:

  1. Kayu, sangat kuat bila kualitasnya bagus, dengan harga yang menjulang juga. Cenderung berat.
  2. Baja ringan, rawan karatan di sambungan-sambungannya
  3. Besi hollow dengan berbagai ukuran. Semakin besar ukuran, semakin mahal dan semakin kuat.

Begitu juga dengan pilihan penutup kanopi, ada beberapa pilihan. Ini hanya sedikit dari beberapa bahan yang kami riset untuk calon. Endingnya kami memilih UPVC double layer. Material campuran plastik ini tebal, tahan lama, dan paling utama: nggak berisik kalau kena hujan. Material yang kami pertimbangkan, antara lain:

  1. Polikarbonat - berisik dan rawan buram
  2. Spandek (Zinggalum) - tipis, mudah bengkok, risiko berkarat
  3. UPVC (Alderon, dll.) - pilihan satu lapis atau dua lapis
  4. Kaca - berat, mahal, dan perawatannya cukup sulit (kalau nggak dirawat nanti buram, jelekk)

Untuk pagar sendiri, karena masih panjang perjalanan kami bikin pagar (desain yang sreg pun belum nemu), jadinya saya belum bisa nulis. Plus it’s not a fun experience buat dituliskan buatku (ha ha), jadi ya udah, segini aja ya tulisan singkatnya. Yang pasti, biaya yang dikeluarkan cukup besar, tapi worth it dengan kualitasnya. Jadi menurut saya, nggak masalah pelan-pelan merencanakan ini; yang penting bisa dapat hasil yang diinginkan.

Perbaikan Tahunan

Ini memang biasanya baru disiapkan setelah setahun, sih: tapi tidak ada salahnya untuk ditaruh di sini. Konon, rumah se-mahal apa pun, se-elit apa pun, akan tetap ada kerusakan yang muncul. Jadi, setiap tahun, idealnya menyediakan dana khusus untuk ini. Masa retensi rumah biasanya hanya tiga bulan, jadi menyiapkan sejak awal adalah hal yang baik.

Berapa nominalnya? Patokan ideal (saya lupa sumbernya, tapi dari website luar negeri) dana untuk persiapan perbaikan ini adalah 2-4% dari harga rumah. Tampak kecil, tapi kalau disebut nominalnya, walah lumayan juga. Saya termasuk golongan nekad yang biaya perbaikan masuk ke cushion fund / dana darurat, tapi sejauh ini masih aman sih. Seiring pertambahan umur rumah, pasti dana yang disediakan harus semakin besar.

Perbaikan bisa mulai dari hal yang “kecil”, seperti menambal dinding retak rambut atau bocor setitik; bisa juga hal yang memusingkan, seperti kebocoran saluran air yang nggak ketahuan di mana, sampai ada bagian rumah yang keropos atau roboh.

Tentu saja, untuk rumah baru, hal ini cenderung minimal. Tapi satu yang perlu dijadikan perhatian saat membeli rumah kelas menengah mepet: harga ekonomis non-subsidi adalah selling point-nya. Artinya, bahan bangunan yang digunakan tidak selalu yang terbaik. Sehingga kadang adaa saja masalahnya. (Sebagian ini memang curhat).


Rumah (apalagi dengan KPR) adalah sebuah komitmen panjang

Waktu belum punya rumah, rasanya ingin buru-buru, karena tidak nyaman kalau tidak punya rumah sendiri. Terlebih posisi kami waktu itu tidak bisa tinggal di rumah orangtua, dan mengontrak sayang rasanya dengan lokasi yang ada saat itu. Memilih rumah dengan KPR dirasakan adalah pilihan yang paling masuk akal.

Sekarang? Untungnya, perasaan itu masih sama. Kami bersyukur mendapatkan tempat tinggal untuk kami berdua, dengan lokasi yang nyaman meskipun bukan lokasi ideal (masih terlalu jauh dari tempat kerja). Namun yang kami sadari sekarang, KPR tuh lama banget ya HAHAHAHA. Kami bercita-cita melunasi lebih cepat dari yang seharusnya. Semoga saja dapat terlaksana.

Pun tempat tinggal—rumah—bukanlah sesuatu yang dapat terjual dengan cepat. Bagi yang pendapatannya masih terbatas, sebaiknya tidak terburu-buru. Giliran nanti terjadi sesuatu, malah harus pindah, dan rumah yang sudah dibeli malah jadi terbengkalai (lain kalau keadaannya darurat). Tinggal di suatu tempat dan menetap adalah waktu yang panjang dan memerlukan komitmen benar-benar.

Perjalanan kami mendapatkan rumah ini tidak sempurna, dan banyak hal yang harusnya bisa kami pilah lebih baik; namun ini-lah rezeki kami sekarang, dan kami akan berusaha menjaganya sebaik-baiknya.

Salam, 

Mega

17 Mar 2024

It’s been one year since pandemic status lifted!

Sejak 2023, kehidupan manusia sudah kembali normal seperti ketika dunia belum mengenal COVID-19. Tidak ada restriksi, tidak ada tes yang harus dilakukan berkali-kali, tidak ada batasan jumlah manusia di satu lokasi.

But it also means work-from-office days! Waktu pandemi bilangnya kangen kerja ke kantor, bawa tas cantik. Akhirnya sekarang bisa lagi ngantor bawa tas, meskipun ya ternyata tasnya nggak bisa seperti yang saya bayangkan sebelumnya.

Pasalnya, gaya kerja pra-pandemi sudah berbeda dengan pos-pandemi. Kalau dulu komputer saya selalu duduk manis di meja, sekarang kami sudah menggunakan laptop untuk kegiatan sehari-hari. Jadilah, hal itu berefek juga pada gear sehari-hari yang saya gunakan.

Nah, berikut ini adalah tas yang saya pakai sekarang dan barang-barang yang ada di dalamnya, sebagai pekerja kantoran 9-5 (8-4, in my case).

Tas yang Digunakan: Unbranded dari Lanalini

Ransel ini baru dibeli setelah saya mengganti laptop dengan yang lebih kecil. Sebelumnya, saya menggunakan ransel bawaan laptop lama yang kebesaran. Tas laptop bawaan penampakannya gak bikin semangat (hahaha), jadi saya beli ransel khusus, deh.

Syaratnya: tas yang saya pakai harus punya support bahu dan punggung yang bagus. Saya juga nggak mau tas yang terlalu besar. Banyak ransel laptop yang juga berperan ganda sebagai kantong doraemon, sementara saya nggak butuh itu. Jadilah saya berselancar di e-commerce, mencari tas yang cocok.

Enter this unbranded bag dari lapak oranye, impor dari negeri tirai bambu. Saya sebut unbranded karena terlihat tidak ada branding khusus yang memberi karakter—jadi tokonya hanya bertindak sebagai reseller. Nama tokonya Lanalini.id dan tersedia di platform Tokopedia maupun Shopee.

Tas ini berbahan dasar nilon tahan air. Modelnya kompak dan kokoh, dengan ritsleting yang cukup kuat. Tampilannya cenderung minimal dan feminin. Yang saya suka adalah tali bahunya yang tebal dan berbusa, sehingga memberikan support bahu yang cukup. Sudah beberapa kali naksir model tas ransel perempuan, tapi tali bahu-nya kayak nggak niat. Tipis dan kecil.

Karena ada kompartemen laptop terpisah, saya tidak perlu khawatir laptop saya terjepit barang-barang lain. Kompartemen tengahnya pun cukup luas dengan banyak kantong tambahan: bisa untuk perkabelan, buku, sampai pulpen.

Plus-nya, harganya pun nggak mahal πŸ˜† Dengan budget di bawah tiga ratus ribu rupiah, tas ini enak dan nyaman dipakai untuk sehari-hari.

Cons-nya, lapisan bawah tas ini memang tidak tebal, jadi harus tetap berhati-hati kalau mau meletakkan tas berisi laptop di lantai. Material interiornya juga sesuai harga—tipis dan kasar.

Overall, sudah dua bulan tas ini saya pakai, dan kesannya 8/10! Kalau tas yang ini rusak, saya berani berinvestasi lebih, karena ternyata nyaman banget pakai ransel untuk ke kantor.

Laptop Backpack by Lanalini - buy here: Tokopedia / Shopee

The Pouch(es)

Bukan tas cewek namanya kalo nggak ada kantong lagi di dalamnya. Apalagi kalau tasnya adalah tas tempur, alias dipakai untuk sehari-hari. Di tas saya sendiri, minimal ada dua-tiga pouch dengan berbagai bentuk dan fungsi.


Makeup Pouch

Karena waktu yang terbatas dan terpotong perjalanan, saya memilih dandan di kantor saja. Berangkat bare face alias muka polos yang penting morning skincare routine aman. Karena itu pouch ini cukup banyak isinya. Maklum, benda ini adalah senjata utama saya di pagi hari.

Isinya lengkap: sunscreen (in case perlu re-apply), cushion foundation, cream blush, pensil alis, parfum hari itu, dan beberapa warna lipstik. To be honest, untuk ukuran pengguna make-up, ini adalah make-up routine yang sangat minimalis. Produknya pun yang ringkas dan mudah diaplikasikan.Tapi tetap saja wadahnya penuh πŸ˜†

More skincare details here.

Cable Pouch

Sepuluh tahun lalu, bawa charger tidaklah sebuah keharusan. Tetapi sekarang kayaknya semua orang bawa lebih dari satu jenis kabel. Pouch kabel saya berisi wireless earphone, charger laptop, dua jenis adapter, serta tiga jenis kabel (mini usb, type c, dan lightning). Soalnya saya nggak tahu kapan earphone, ponsel, atau kindle saya habis baterai. Dan karena saya berada di kantor delapan jam sehari, charge di kantor adalah kegiatan sehari-hari.

Wireless Earphone: Baseus Encok WM01

Dibeli karena warnanya putih dan viral #ya. Awalnya saya beliin buat suami, ternyata dia nggak suka model bean begini, karena karetnya mudah lepas. Selain itu, ternyata warna putih mudah kotor dan nggak enak dipandang. Karena itu saya belikan lagi beliau yang baru, dan yang ini saya pakai.

Kualitasnya sendiri menurut saya so-so. Ternyata saya lebih suka pakai earphone berkabel daripada yang wireless. Nggak gampang copot, nggak gampang hilang, cocok buat saya yang ceroboh. Yang paling penting, nggak ada delay. Nggak tahu ya kalau akhirnya saya memutuskan pakai wireless earphone yang mahal—misalnya switch ke airpods. Untuk saat ini tidak ada rencana.

Baseus Encok WM01 - buy here: Shopee

Assortment Pouch (not pictured)

Pouch yang ini isinya bisa macam-macam, tergantung niat saya. Kadang dibawa, kadang enggak. Normalnya, pouch ini berisi pembalut atau pantyliners, cadangan masker, dan obat-obatan. Kalau kebetulan pulangnya menginap di luar, saya menambahkan sikat gigi, pasta gigi ukuran kecil, dan sabun cuci muka.

Sampai sekarang, saya masih bawa masker tipe KN95. Meskipun tidak ada kewajiban pakai masker lagi, udah terlalu nyaman bawa masker sehari-hari. Untuk pantyliners dan teman-temannya, saya doyan beli borongan di toko ini. Beli sekaligus buat tiga bulan—nggak perlu takut kehabisan ketika mendadak butuh.

Masker favorit, belinya di sini (Shopee).

The Compartments


Laptop

Sebelumnya saya selalu pakai si Monster. Si Monster adalah laptop spek gaming—laptop yang se-tipis apa pun di kelasnya, akan selalu berat kalau dibandingkan laptop dengan spek office. Apa daya sehari-hari saya menggunakan software grafis, banyak pula.

Untungnya, setelah dua tahun bergelut dengan syaraf kejepit dan nyeri punggung kronis, akhirnya kantor saya memberikan kesempatan untuk menukar laptop dengan yang lebih ringan di akhir tahun 2023.

Saat ini saya menggunakan Macbook M1 Pro 2021. Dibandingkan dengan Macbook air, sudah tentu laptop saya tetap lebih berat. Tetapi dibandingkan dengan laptop yang sebelumnya saya gunakan, jauh banget! Sampai-sampai, kalau sedang nggak bawa banyak barang, saya suka merasa laptop saya ketinggalan, karena nggak berasa di punggung.

Karena ini perdana saya switch dari Windows ke Mac (yup), tentu saja butuh sedikit learning curve. Tapi karena saya juga pindah ke Apple environment sebelumnya—lewat ponsel—jadi penyesuaian itu pun tidak terlalu lama. If any, saya lebih suka pakai Mac karena nyambung banget kayak jodoh sama si ponsel.

Bersyukur sekali akhirnya punggung saya tidak tersiksa lagi. semoga kamu awet ya, top (laptop).

Mouse + Adapter

Sejak pindah “agama” ke Mac, otomatis saya jarang banget bawa mouse. Trackpad-nya beneran seenak itu, bahkan untuk kegiatan yang banyak menggunakan software grafis seperti saya. Jadi kadang saya bawa, kadang tidak. Berhubung HDMI port sudah ada, untuk keperluan presentasi tidak perlu adapter. Praktis yang saya butuhkan dari adapter hanyalah USB-nya, yang digunakan untuk mouse.

Mouse yang saya pakai ini enak banget dipakai, though! Mungil, tapi nggak bikin kagok. Adapter-nya juga tahan banting—pernah kehujanan dan tetap berfungsi dengan baik. Tetap, jangan sampai adapternya kehujanan yak.

Genius Mouse - buy here: Tokopedia / Shopee

UGreen USB Hub for Mac - buy here: Shopee

Ponsel: iPhone 13 - Pink

Ponsel lama saya, si Redmi Note 8, sudah “berpenyakit” sejak 2022. Saya mencoba bertahan dengan baterainya yang drop, kameranya yang sering hang, dan beberapa penyakit lainnya. Tapi akhirnya saya menyerah ketika ponsel itu restart berkali-kali dalam sehari. Pertengahan 2023, pencarian ponsel baru dimulai.

Karena dulu saya beli ponsel hitam karena terpaksa (In the end, I don’t like black phones, it’s boring), saya bertekad untuk benar-benar membeli ponsel yang saya inginkan. Bagus kalau software dan hardwarenya bisa kuat untuk minimal tiga tahun, dan memudahkan saya bekerja. Tapi poin utama saya waktu mencari ponsel adalah satu hal:

MAU HP PINK!!!!

Milih-milih antara si Samsung yang warnanya coral/lavender, Xiaomi Mi Lite pink, atau nungguin iPhone 15 pink keluar, endingnya saya memilih iPhone 13 pink buat jadi daily driver. Sejauh ini puas dengan performanya: motret yang urusan kerjaan nggak perlu bingung karena beda warna dengan kondisi irl, prosesornya sat-set buat kerja (plus it synchronize well with my mac), dan motret buat konten blog lebih mudah. Hehehe.

Setelah iPhone 15 pink keluar pun, saya masih lebih suka yang 13 pink ini, karena pink-nya beda. 15 lebih Barbie Pink, dan yang 13 coral pinkthe kind of pink that I love πŸ₯°

Happy with the purchase, meskipun sampai harus keliling 3 iBox karena stoknya entah kenapa jarang banget waktu itu. Oh ya, sekarang harganya lagi turun-turunnya banget. Di tahun 2024, ponsel ini masih sangat layak pakai, so if you want to purchase, you’ll get a good deal.

O iya, pastikan untuk selalu membeli dengan garansi resmi. Emang sih Apple nggak punya toko resmi di Indonesia, tapi paling tidak kita berusaha lebih aman secara legal dengan membeli garansi resmi.

Dompet - Povilo Bira Card Wallet

Per tahun 2024 ini saya memutuskan switch ke dompet kartu. Sebenarnya, dompet lama saya baik-baik aja (yang dibeli tahun 2021). Tapi sekarang dompet itu terlalu besar untuk kebutuhan sehari-hari. Seiring waktu, sekarang saya jarang banget ambil uang cash. Kalo kepepet minta ke dompet Abang aja (haha). Dompet yang biasa pun jadi terasa bulky.

Enter Povilo Bira Card Wallet. Sebelumnya saya udah pakai dua produk Povilo, jadi tentu saja sudah tahu dengan kualitasnya. Sempat ingin merek lain sebenarnya, tapi karena barangnya habis akhirnya balik deh ke sini. Ternyata saat barangnya datang, saya suka banget!

Bahannya jangan ditanya: sintetis, tapi berkualitas. Elastis namun kuat. Muat maksimal 8 kartu, tapi memang desainnya cukup tight, jadi saya memasukkan maksimal enam kartu. Selain itu, di tengahnya masih ada slot untuk uang kertas barang satu-dua lembar.

Pilihan warnanya banyak banget sampai bingung. Saya memilih warna burgundy karena memang warna favorit—plus masih berkesan netral *with enough oomph—*tetapi mereka juga tersedia dalam warna merah muda, hijau, biru, hitam, sampai two-tone.

Povilo Bira Card Wallet - buy here: Tokopedia / Shopee

Kindle Regular 2019 - 4GB

Masih menjadi best buy saya di tahun 2020, dan senang mengabarkan kalau Kindle ini masih berfungsi baik menjelang tahun keempatnya. Masalah yang dia miliki wajar banget untuk gadget berusia empat tahun: baterai bertahan lebih singkat (tetap bisa dipakai sampai 4 hari untuk pemakaian standar), dan kadang suka hang yang menyebabkan blinked screen (cukup tekan tombol utama dua kali, masalah selesai).

Saya nggak baca apa pun di 2023 despite kemana-mana bawa benda ini, termasuk saat ke kantor. Tepatnya, nggak ada buku yang tamat. Tahun 2024 ini, saya berharap bisa menyelesaikan minimal sepuluh buku, syukur-syukur kalau lebih. Mohon doa, yaa.

Kindle Paperwhite 2021 - buy here

Baca lebih detail tentang plus-minus Kindle di sini

Mukena Travel (Travel Prayer Set) - Alif

Post-pandemic state brings me to a more mobile lifestyle. Terlebih dengan kerjaan yang nggak tahu kapan selesainya, kapan mendadak perginya, kapan pulangnya, keberadaan mukena travel jadi hal yang esensial. Saya beli mukena ini karena viral (lagi), dan senang banget karena mukena ini sangat bermanfaat.

Ukurannya kecil, ringan, dan nyaman dipakai. Bisa masuk ke tas mana aja, tinggal cemplung cemplung. Selama melipatnya benar, dijamin bisa masuk ke dalam tas mukenanya dengan mudah. Selain itu, bisa dipakai dengan model tudung maupun model non-tudung. Best buy! Semua perempuan yang salat harus punya satu di tasnya.

Setelah saya beli, ternyata teman saya memberikan mukena yang sama sebagai hadiah housewarming. Jadi sekarang saya punya dua buat gonta-ganti. Tokonya lumayan sering live, jadi bisa dapat voucher diskon tambahan.

Alif Mukena Travel - buy here: Tokopedia / Shopee

Review on my X (Twitter)

Shopping Bag (not pictured).

Berkat peraturan mengurangi plastik dan keseringan delivery, mau ngaku deh kalau di rumah saya tuh banyak banget kantong spunbond dari go-food dan grabfood merchant πŸ˜…. Karena itu, sekarang saya selalu bawa kantong belanja tambahan di ransel. Nggak ada ketentuan khusus karena emang banyak banget spunbond yang ada di rumah. Ini pun nggak kefoto karena kemarin habis dipakai, jadi belum dimasukkan ke tas lagi (dan saya keburu males hahaha).

Pen + Keys

Terlepas dari dunia yang serba digital saat ini, saya masih menggunakan dua benda manual: kunci biasa (bukan smart key) dan pulpen (bawa dua karena memang kebetulan ada dua aja). Kunci saya ternyata masih berat karena cukup banyak, tapi memudahkan karena saya yang ceroboh ini suka lupa naruh.

Untuk pulpen, gunanya bener-bener random. Kita nggak tahu kapan butuh pulpen. Seringnya ketika kegiatan outdoor, mendadak ada yang harus ditandatangani, dan si orang yang membawa formulir juga sibuk mencari-cari pulpen. Tadaaaa… berasa deh gunanya. Selain itu, karena ada slot khusus pulpen di tas ini, jadinya ya enak banget, nggak perlu takut hilang tenggelam di tas 😁


Setelah pandemi, praktis bawaan saya beda banget. Memang benar ternyata, pandemi membawa revolusi dalam waktu singkat. Mirip-mirip kalau terkena bencana alam atau perang, katanya. Bandingkan dengan bawaan saya waktu pandemi dulu. Itu pun ke kantor hanya seminggu tiga kali maksimal.

It’s a super long post and I’m surprised there are a lot of stuff in my bag! Untuk tas yang ukurannya sedang, tas ini muat cukup banyak, dan saya hepi dengan pembeliannya. Cocok digunakan ketika saya menggunakan motor, mobil, maupun commuting menggunakan kereta.

Are you commuting for your everyday jobs/errands? Apa saja yang biasanya ada di tas utama kalian? I’d love to hear!

Salam,

Mega

13 Mar 2024

Setelah cerita-cerita soal Fore Coffee di postingan yang lalu, ada dua rekomendasi Makmur Jaya Coffee Roaster di kolom komentarnya. Beruntung sekali, kantor saya deket banget dari Makmur Jaya, atau affectionately called MakJay by my office mates.

Biasanya, kantor saya memesan dua jenis minuman untuk meeting internal: kopi dan non-kopi. Kalau Makmur Jaya, yang dipesan adalah minuman coklat dan kopi susu. Karena saya nggak begitu suka minum coklat, kopi jadi pilihan saya.

Kopi susu Makmur Jaya punya karakter yang creamy dan pekat. Baik kopi dan rasa susu sama-sama kuat, tapi tidak bersaing. Pokoknya ini termasuk kopi yang enak di lidah saya πŸ˜€ tapi menghantam untuk jantung dan lambung saya πŸ«΅πŸ™ƒ.

Pertama kali minum kopsus MakJay, saya hanya sanggup menghabiskan separuh. Sisanya diminum esok harinya. LEMAH BANGET GAK SIH… emang separah itu pas pertama nyoba. Tapi saya suka banget rasanya! Creamy tapi kopinya tetep berasa gituu lho.

Selain menu kopi, Makmur Jaya juga menyediakan brownies, cookies dan beberapa pastry lainnya. Yang pernah saya coba cookies dan brownies-nya saja. Bukan yang istimewa, tapi enak dan cocok dimakan dengan kopinya.

Untuk lokasi, outlet dekat kantor saya, alias Jalan Sawunggaling, adalah outlet yang paling luas. Outlet lainnya yang berada di Sarijadi dan Lengkong jauh lebih kecil. Tempat yang ini nyaman, dengan bangunan zaman belanda yang jadi base-nya. Penandanya nggak terlalu terlihat dari jauh, tapi kalau lihat ke dindingnya, ada neon lights gituu.

Nah, tempat yang lebih luas ini sekaligus bikin tempatnya paling penuh—karena nggak cuma penduduk lokal yang mampir, tapi juga wisatawan. Lokasinya yang di tengah kota juga membuat tempatnya mudah dicapai. Nggak sekali dua kali tempat sekitarnya sering ketumpahan macet gara-gara mobil yang parkir bolak-balik ke sana.

Kalau saya sendiri, cuma sekali saja main ke sana untuk duduk; itu pun karena ngantri. Sisanya selalu takeaway atau dibeliin OB kantor buat rapat heheh. Tempatnya kurang enak buat WFO karena kursinya kecil-kecil—tipikal coffee shop  yang lebih cocok buat nongkrong sebentar atau gosip dikit-dikit.

Nonetheless, kopi-nya sudah masuk jadi daftar favorit saya!

Makmur Jaya Coffee Roaster
Instagram: @makmurjayacoffee

Instagram

gentle sunday. Theme by STS.