Catatan Ngopi: Fore Coffee


Dalam rangka slowing down dan menuliskan pikiran lebih rajin lagi, mohon jangan heran kalau blog ini akan banyak diisi dengan postingan-postingan pendek. Selain Twitter/X, saya ingin menjadikan blog sebagai buku catatan tahun ini. (Tentu saja saya yakin temen-temen yang baca mah oke-oke aja, tapi sebagai blogger yang sebelumnya doyan bikin postingan sepanjang dunia, it’s a quite radical change for me.)

Seperti sudah saya ceritakan sekilas, per tahun 2023, saya minum kopi lagi. Perut pelan-pelan bisa menoleransi, tapi tetap saja saya beraninya minum latte alias kopi susu. Maklum, bertahun-tahun nggak minum kopi—hanya seteguk-dua teguk hitungan jari dalam satu tahun—bikin mulut saya kembali nggak familier dengan rasa pahitnya. Kadang asam lambung kembali kumat, tapi nggak separah dulu sih.

I found joy in drinking coffee again, just like tea. Seperti biasa, maka selamat datang di Catatan Ngopi seri perdana, yang semoga ada banyak terusannya.



Cerita Bertemu Fore

Pertama nyobain Fore adalah sewaktu saya dan suami memutuskan untuk coba-coba lebih banyak merek kopi lokal. Waktu itu seri Buttercream Temptations baru keluar, dan setelah nyoba satu kok ya jadi nagih. Jadilah, awal-awal saya bisa minum kopi, sering banget minum Fore ini (sampai seminggu sekali). Setelah dompet kempes dan sadar gula, Honeymoon phase ini hilang dengan sendirinya. Wkwkwk.

Saya lebih sering pesan Fore lewat delivery, karena ada aplikasinya. Enak, suka ngasih diskon, dan poinnya bisa dibelikan kopi lagi. Untuk cabang yang pernah didatangi hanya dua: cabang Cimahi yang dekat rumah, dan cabang Dipati Ukur yang dekat kantor. Tampilan keduanya konsisten—elemen natural hijau dan putih; jadi look and vibe-nya tetap sama. Ukurannya saja yang berbeda.

Tidak semua cabang Fore nyaman untuk WFC (Work from Cafe), katanya. Dari dua abang tersebut, saya Cabang Dipati Ukur adalah yang paling nyaman untuk WFC. Colokannya banyak, WiFi-nya kenceng, tempatnya luas dan buka dari pukul tujuh pagi. Nggak heran, ketika saya WFC di sini pada pukul sembilan pagi di hari kerja, sudah banyak yang menempati meja masing-masing.

Sementara, cabang Cimahi sebaliknya: agak sempit, dan WiFi-nya kurang oke. Pengaruh tempat sempit itu juga bikin ngapa-ngapain agak kagok. Belum pernah dites WFC sih, tapi kayaknya kalau mau WFC di Cimahi, saya nggak akan ke Fore cabang sana.



Menu yang Pernah Dicoba

Iced Buttercream Latte

Menu pertama yang saya pesan dan langsung suka! Sesuai namanya, ada rasa buttery, creamy, tapi nggak berasa berat. Buttercream-nya nggak “tajam”. Kopi-nya mulus aja gitu langsung ke tenggorokan. Baik normal sugar maupun less sugar sama-sama enak. Yang saya suka dari Fore adalah *espresso-*nya termasuk ringan. Cocok banget buat pemula kopi kayak saya.

Iced Buttercream Tiramisu Latte

Hands down menu favorit saya nih. Suka suka suka pake banget. Rasanya termasuk manis, paling manis di antara semua menu Fore yang saya coba. Sesuai namanya, ini buttercream dengan rasa tiramisu. Rasanya kayak makan dessert tapi cair. Penyajiannya pakai foam yang cukup tebal, jadi pengalaman minumnya menyenangkan.

Iced Buttercream Choco Mint

Seri buttercream yang paling sedikit hint rasa buttercream-nya, lebih dominan rasa coklat. Tapi tetap ada rasa kopi yang ringan dan smooth. Oh iya, mint-nya tuh saya kira bakalan berasa aneh, tapi ternyata enak! Meskipun bukan jadi pilihan utama saya untuk order, tapi rasanya bisa diterima oleh saya.

Iced Butterscotch Sea Salt Latte

Karena sebelumnya sudah mencoba Buttercream Latte, menu ini jadi terasa kurang istimewa buat saya. Mungkin juga karena tiga menu di atas manis-manis semua ya, ketika bertemu yang profil rasanya tidak semanis seri di atas, jadinya bingung wkwk. Kalo ada kesempatan lagi nanti mau beli lagi ah, karena sekarang saya sudah lebih terbiasa dengan kopi.

Buat yang suka kopi bercitarasa gurih, cocok beli ini, karena ada citarasa asin-gurih dari sea salt-nya. Untuk butterscotch-nya menurut saya kurang berasa, tapi seperti biasa, kopinya smooth sailing.

Berry Manuka Americano

Full refresher dengan rasa yang segar dan ringan, tapi mendadak ada hint kopi-nya gitu, hampir ngga berasa. Awalnya kerasa aneh, tapi lama-lama cocok di lidah. Lebih dominan rasa buah dan madu yang asem-asem manis. Kayak minum teh buah dan kopi sekaligus. Bukan menu favorit, tapi rasanya enak!

Iced Pandan Latte

Ini bagian dari menu reguler, jadi rasanya juga relatif tidak manis. Rasanya sangat ringan, dengan aroma pandan yang menurut saya kurang terasa. Again, ini kayaknya karena saya belum terbiasa dengan kopi yang gulanya sedikit. Tetapi, karena tipe kopi-nya ringan, jadinya kayak kurang berasa juga, krisis identitas :’) maafkan aku, Pandan Latte.

Iced Caramel Praline Macchiato

Macchiato adalah menu favorit saya di coffee shop lain. Maka waktu itu dengan pede memesan menu ini. Ternyata menu ini bukan favorit saya, karena rasa cokelatnya sangat strong, mengalahkan rasa kopi-nya. Pun, praline yang saya kira akan mendukung, ternyata menjadikan kopi terlalu manis di mulut. Kopinya nggak salah sih, soalnya sesuai nama; rasanya seperti minum coklat yang baru dicairkan. Hampir-hampir terasa seperti menu non-coffee.

Iced Malt Latte

Satu lagi menu yang tidak memorable buat saya, karena berasa interchangeable. Mirip Butterscotch, mirip Caramel, nggak ada yang distinguishable, jadi rasanya nggak istimewa. Maaf ya, Malt Latte, kita tidak berjodoh :’)

Menu Ekstra: Pastries & Cakes

Karena fokusnya kopi, saya nggak kaget sih ketika merasakan menu pendukungnya nggak enak-enak amat. Cuma sayang aja nggak digarap dengan serius. Sandwich-nya kalau saya bilang, bukan menu yang bisa direkomendasikan--karena ya itu, tidak terkesan digarap serius sebagai teman ngopi ataupun sarapan.

Satu menu pendamping yang saya suka adalah Cempedak cake, alias kue bolu dengan citarasa cempedak. Rasa manisnya legit, nggak bikin eneg, cocok sekali sebagai pendamping kopi. Sayangnya, mungkin karena kurang peminat, menu ini sudah discontinue.




My Current to-go Coffee Shop

Setelah mendaftar menu-menu yang dicoba di atas, ternyata banyak juga yang pernah saya coba di Fore (baru sadarrr banget ini mah). Selain karena harganya yang affordable, Fore juga sering memberikan promo bundle atau voucher, terutama di aplikasinya. Dari pengalaman mencoba di dua cabang, rasa kopi-nya pun konsisten.

Ketika Fore muncul di Indonesia, saya skeptis karena berpikir Fore hanyalah startup yang mengandalkan aplikasi saja. Ternyata, untuk saat ini, Fore bisa dibilang tempat beli kopi favorit. Kalau nongkrongnya, not so much; masih banyak tempat ngopi yang lebih cozy dan menyenangkan. Tetapi, rasa kopi yang ringan, menu yang beragam, serta konsistensi rasa, membuat saya kembali lagi ke sini.

Kalau nyoba menu lain lagi, nanti post ini akan di-update. Sekarang saya lagi hobi nyoba-nyoba kopi di berbagai tempat. Jadi, ada rekomendasi merek kopi yang mungkin harus saya coba? Tapi yang cabangnya ada di Bandung, ya 🤣

Salam,

Mega

18 komentar

  1. Kak Mega udah coba banyak banget varian di Fore 🤩. Aku seringnya beli menu yang itu itu lagi kalau ke toko kopi soalnya di perjalanan udah kebayang enaknya minuman itu, jadi nggak kepengin coba varian lain kecuali ada varian baru yang bikin pengin icip 🤣.

    Aku suka kopi yang creamy dan sedikit rasa pahit kopinya masih berasa, untuk series buttercream Fore ini enak-enak dan betul kata Kak Mega, kopinya light~ aku malah suka yang butterscotch 🤣. Kalau di Fore, aku paling suka Double shaken lattenya! Ini perpaduan pahit dan creamynya pas buatku 😆. Kue cimpedak kayaknya khusus cabang Bandung aja ya? Aku baru denger ada varian ini~

    Berhubung aku sukanya kopi yang creamy dan nampaknya Kak Mega juga demikian, aku mau rekomendasiin Makmur Jaya Coffee, ini asli Bandung dan ada beberapa cabang di Bandung. Kopi susu mereka creamy sekali dan nggak too strong pahitnya even for less sugar~ pakai yang plant based milk juga enak! Aku suka bangettt, rasanya mirip kopi Tuku kalau di Jakarta hahaha. Sok cobain kalau Kak Mega mau 🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga baru sadar loh pas nge-list di sini... kek "yaampun sejak kapan gue jadi fangirl fore aaaa" wkwkwkw 🤣 Lia berarti persis kayak suami aku nih. Dia pertama ke Fore jatuh cinta sama buttercream latte, dan sampai sekarang gak pernah pesan menu lain 😂

      Hmm kayaknya nggak banyak yang tahu kue cempedak ya? Menunya ada di cabang kota lain juga, tapi nggak tahu kalau di Jakarta nggak ada. Waktu itu itu ada banana cake juga, dipajang bareng si cempedak ini. Terus terang kalo di antara menu Fore Deli yang lain, yang berasa enak cuma si cempedak ini. hiks hiks. Lainnya so-so.

      Betuul sekali aku suka kopi yang creamy! Terus masih belajar juga supaya bisa menambah kadar toleransi terhadap kopi -- atau malah dicukupkan segini saja. Nahh, kebetulan banget kantor aku tuh deket Makmur Jaya Li, jadi kadang2 kantor beli buat snack rapat.

      Percaya atau enggak, pertama kali nyoba Makmur Jaya, aku tuh cuma sanggup ngabisin setengahnya, sisanya buat besoknya :'''') padahal cuma kopi susu. Tapi perut dan jantung langsung berasa dihajar. Maka Lia bayangin aja toleransiku ke kopi tuh sependek apa 😂😂😂 belum coba kalau pake plant-based, belum coba juga kalau less sugar. Mungkin akan jadi sasaranku berikutnya. Terima kasih rekomendasinya!

      Anyway, yang bikin aku penasaran tuh malah Tuku karena temenku yang selera kopinya susah itu hanya mau minum Tuku! Kalau Lia bilang rasanya mirip Makjay, sepertinya aku udah punya kisi-kisi. 😁

      Hapus
    2. ((fangirl Fore)) 🤣🤣. Iya~ akutu kalau udah ketemu 1 yang cocok, aku suka malas coba yang lain karena takut nggak seenak yang aku suka 😂.

      Kue Cempedak ini aku baru dengar! Mungkin juga aku yang kurang update soal Fore Deli 😂. Belum pernah cobain juga makanan di Fore Deli, tapi yang tipe mirip subway itu sebenarnya menggiurkan cuma tiap mau beli selalu mikir karena harganya nggak murah 😂 alhasil nggak pernah beli sampai sekarang wkwk. Kalau kata Kak Mega kurang recommended, aku skip aja 🤣

      Kak~ toleransi kopiku juga rendah karena minum 1 gelas kopi susu kadang bisa bikin deg-deg sampai gemeteran dan agak sesek napas 🤣 nggak semua kopi bikin begini sih~ seingetku kalau Fore aman juga buatku, nah MakJay ((MakJay banget nih singkatannya? 🤣) kalau nggak salah juga aman wkwk, kalau Tuku agak deg-degan dikit. Btw, Tuku akhirnya buka cabang di Bandung Kak!! Boleh coba aja dulu kalau penasaran then let me know gimana reaksinya ke Kakak 🙈. Aku nggak terlalu rekomendasiin Kopi Kenangan karena ini bikin deg-degan buatku, takutnya bikin nggak nyaman juga untuk Kakak, tapi rasanya sih aku suka wkwk

      Hapus
    3. WKWKW aku kelepasan nulis MakJay yak... aku dan anak-anak kantor tuh nyebutnya makjay. Jadi kek gini, "Makjay dulu yok???" 🤣🤣🤣

      Eh deket kantor aku juga kemarin buka Tuku pop-up store gitu, tapi cuma dua hari. Mereka kayaknya masih test market deh di Bandung sini. Selain buka di deket kantor mereka juga buka di lokasi lain, nah katanya itu cuma sampai bulan Maret.

      Pas di deket kantor (Imah Babaturan), aku dan orang kantor udah ke sana, tapi ternyata antriannya membludak banget sampe kita balik lagi. Jadinya sekarang belum berpikir mau mampir ke tuku pop-up yg di sini karena males ngantri #maafjompo

      Hapus
    4. WKWK enak sih sebut MakJay, Kak 🤣 tapi jadi kayak nama warkop 😭✋🏻

      Btw, Tuku kali ini kayaknya bukan pop-up store. Adanya di jalan Cimanuk 1 bangunan dengan merindu canteen~ ini jauh atau dekat dari tempat Kakak?

      Hapus
    5. ooo does that mean mereka akan stay for a long time? Lets see--mungkin bakal aku kunjungi kalau udah gak ramai-ramai amat. Dekettt itu dari kantorku, soalnya kantorku di tengah kota 🤣

      kemarin aku sempet liat story IG temen yang ke sana. dan mereka ngantri sampai dua jam :') I'm that patient person yang akan menunggu sampai nggak se-hype sekarang atau bisa dipesan via delivery online dengan damai HAHAHA

      Hapus
    6. Kayaknya iyaa bukan pop-up kali iniiii 😆. Wkwk iya mending tunggu sampai nggak hype lagi Kakk, soalnya kalau buat antri sampai 2 jam nggak worth it 😭

      Hapus
  2. Fore ini termasuk yg aku suka mba, tapiiii kayaknya lbh cocok minum langsung di tempat drpd pesen di gofood. Aplikasi ga pernah coba.

    Soalnya bbrp kali pesen di gofood, ntah kenapa ga pas mulu rasanya. Malah pernah ga dipakein gula 🤣🤣.

    Untungnya aku pernah minum di tempat, jadi tau kalo rasanya dia tuh enak sbnrnya. Krn kalo first impression udh ga suka, biasanya bakal lanjut ga suka.

    Jd sejak itu ga pernah pesen online lagi. Kalo pas lewat, baru beli.

    Sayangnya ga semua tempat enak juga. Pernah beli di rest area pas ke Solo, rasanya kok ga seenak yg langgananku di jkt 😅

    Memang lagi banyaaak ya kedai2 kopi lokal. Nanti kalo mba ke jkt, cobain second floor. Unik, tapi serius enaaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah lho aku malah kaget karena minum langsung sama gofood rasanya beda. Soalnya buatku, malah konsistensi Fore yang jadi unggulan--pas beli langsung dan beli delivery, rasanya sama hehehe....

      Cuma memang belum pernah nyoba kalo di cabang lain, baru Bandung aja. siapa tau kalo beda kota emang beda QC-nya, ya. Terima kasih untuk rekomendasi di Jakarta-nya, Mbak Fanny :D

      Hapus
  3. Wah, dengan begitu banyak menu yang udah dicoba, udah tergambar seberapa seringnya Mega ngopi ke Fore..

    tapi maaf sebelumnya, terkadang aku suka gagal fokus, apalagi dengan gambar, karena di salah satu fotonya, ada background laptop yg bezelnya tipis, laptop apa tuh? hahaha *ga sesuai banget sama tema tulisannya yaaa

    Kalo aku mah justru... *sbagey yg ga bisa konsumsi dairy dan gula putih, udah lama banget ga minum kopi susu ataupun apapun yg pake pemanis dan susu, kalo sekarang aku pengen beli kopi ke kafe, pasti hanya varian manual brew yg aku pesan, dan jenis Japanese yg so far jadi favoritku, hanya karena dingin tapi ga bikin kembung.

    Kopi tanpa gula itu seruuu! karena setelah lidah terbiasa ga dimanjain rasa manis, dia bisa eksplor rasa lebih dari sekadar pahit, karena ternyata dibalik rasa pahit kopi, ada kayak manis-manis fruity, kadang terasa nutty dll.

    ah, jadi pengen ngopi lagi gegara tulisan ini, padahal lagi berusaha mengurangi konsumsi kopi biar ga berlebihan konsumsi kafeinnya.

    trus kalo tempat ngopi rekomendasi, kayaknya sekarang kafe di Bandung udah menjamur dimana mana dengan berbagai konsep, jadi tinggal pilih aja sih.. hanya saja, kalo bicara terakhir beli kopi itu pasti antri beli roti Macan, akupun beli kopi itemnya, rasanya.. mantap!

    itu lho roti macan yg di deket perempatan buahbatu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paraaah emang, sering banget Kang. Apalagi karena kantorku sekarang kerjaannya lumayan padat, jadi ada aja beberapa kali pergi ke Fore, tujuannya buat "sembunyi" hehehehe. Biar lebih bisa konsentrasi.

      Ah iya, benerrr, Kang Ady ga bisa konsumsi dairy, ya.... nah itu cita-cita aku berikutnya, bisa kembali merasakan rasa kopi yang kaya selain pahit doang. Karena belum terbiasa, jadinya masih "bingung", belum lagi asam lambung yang masih suka kambuh. (Barusan abis nyeduh biji kopi dari kerinci, sekarang lagi dalam keadaan asam lambung kumat wkwkw).

      Konon katanya orang Indonesia tuh banyak coffee enthusiast-nya karena negaranya mayoritas muslim, jadinya interest-nya ke kopi. Kalau boleh minum wine, pasti larinya ke wine. :D Terima kasih buat rekomendasinya, saya chataat dulu yak!

      P.S. Laptop aku itu bezelnya aja tipis. Aslinya segede dan seberat gundam (lebay). Beneran tapii, dia berat banget sampe 3kg lebih, makanya tahun ini aku akhirnya ganti laptop 🤣🤣 Berhubung itu foto tahun lalu, masih pakai laptop yang lama: Lenovo Legion 7i 16".

      Hapus
    2. oooh.. iya juga ya, masuk akal. karena kopi mah sifatnya mubah, beda sama wine yg jelas haram buat muslim, jadi otomatis lebih banyak coffee enthusiast.

      Akupun sebetulnya meski ga ada masalah lambung, ternyata kafein agak menyinggung psoriasis, jadi dibatasi konsumsinya, dari yg biasanya setiap hari, sekarang mah paling seminggu 1-3 kali.

      sisa hari yg kosong, kalo ga sama bajigur (itu jg kalo nemu), sekarang lagi agak rutin minuman rempah(kunyit) atau ginger shot jg nendang sih, hehehe..

      Hmmm.. kayaknya laptop barunya ada aura-aura logo apel nih, hehehe...

      Hapus
  4. Sejak terbiasa seduh kopi susu sendiri, aku dan teman-temanku jarang jajan kopi di cafe, termasuk ke fore. Dulu pernah ke fore dekat rumah, bagiku rasanya cukup manis. Aku lupa bilang less sugar. Meskipun pesen kopi susu, aku dan teman-temanku terbiasa pesan less sugar agar pahitnya kopi tetap terasa lebih kuat.

    pertama kali datang ke fore suka dengan desain interiornya. Warna putih dan hijaunya terlihat sangat harmonis dan nyaman di mata. Apalagi fore yang aku kunjungi punya ruangan yang cukup luas.

    Kemarin pas ke bandung aku belinya kopi aroma. Tentu saja untuk diseduh sendiri. Kemudian temanku menyarankan kalau ke bandung mampir ke makmur jaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo buat orang yang suka kopi as kopi, dan udah terbiasa minum kopi, pasti fore emang kerasa manis banget ya, Mas Rivai. 😁 aku bahagia banget pas nemu Fore karena "yaampun akhirnya ada kopi yang bisa aku minum lagi...."

      Trus kebalikan dengan Mas Rivai, saya justru kurang suka kesan interior Fore pas datang pertama kali. Apa ya, kesannya futuristik, hi-tech (meskipun green). Di kepala saya kedai kopi itu hangat dan cozy, sedangkan Fore kesannya clean, bikin gak pewe ngopi nongkrong gitu. Ternyata sekarang Fore sangat bermanfaat buat saya kerja pas lagi banyak deadline 😂😂

      Kopi Aroma enak, Makmur Jaya juga enak! Tapi memang, untuk bisa "lulus" minum kopi mereka buat sehari-hari, saya masih harus banyak membiasakan diri, terutama perut :D

      Hapus
  5. Waaah, seru amat ini tulisannya! Jadi inget pernah bikin serupa waktu kopi susu lagi hits banget, kayaknya butuh bikin update lagi deh *mendadak ide blogpost baru* XD

    Jadi inget dulu sempat "heboh" bareng Lia soal kopi Fore. Aku sendiri sempat sukaaa banget dengan iced shaken latte-nya, aduh nikmat banget rasanya. Ingin sekali dijual large size-nya, jadi tiap kali minum ini ngirittt banget biar nikmatnya maksimal 🤣

    Cuma karena aku udah nggak pernah konsumsi gula di kopiku selama hampir dua tahun, aku nggak pernah pesan yang "aneh-aneh" lagi. Andalanku cuma latte atau cappuccino untuk hot. Jadi kalau ke Fore aku selalu pesan Iced Latte extra shot, no sugar. Kalau lagi BM, biasa susunya diganti soy, aduh enak banget, hahahaha.

    Si Fore ini dulu sempat ada beberapa cabang di Bogor, sayang sekarang cuma bertahan satu gerai, yang lain paling di Sentul. Aku pun jadi nggak terlalu sering beli. And yesss, harga kopi mereka kalau beli di aplikasi jatuhnya hemattt karena banyak voucher! <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu! Lia juga rekomendasinya samaaa, aku malah belum sempet coba. nanti ah kalo ke Fore lagi. Sekarang aku mulai keliling ke coffee shop selain fore, dan udah nemu juga yang rasa kopinya enak. sekarang masalahnya..... HOW TO MENGHILANGKAN GULA DARI KOPI AAAA MASIH PANJANG PERJALANANKU....

      Ayooo ditunggu postingan ngopi-ngopinya! Ini tuh postingan mentahan aku sebagai pemula kembali minum kopi wkwkwkw. Aku mau mulai dari less sugar dan sekali-kali diganti plant-based milk, doakan aku sukses ya (ala benteng takeshi)

      Hapus
  6. Mba Megaa aku familiar sekali sama Fore DU 🤣 meski kurang sreg sama interior sama tata letak lightingnya (terlalu terang jadi mata cepat lelah), aku awal2 suka belajar sendiri di situ. tapi someday pernah diapproach sama mahasiswa yg suka nawarin snack di Braga, entah kenapa dia bisa masuk Fore, which is totally fine, I let him practice and perform his marketing skill, but still I was in the middle of finishing something at that time jadi lumayan makan waktu aku 15 menit HAHAHA. semenjak itu aku selalu take away aja. I'm a huge fan of MakJay but too bad klo beli g bisa pakai tumbler dan g bisa adjust sugarnya (untuk yg dairy milknya). Jadi ketika Tuku Bertamu di Bandung, aku gamau ketinggalan buat antree meskipun harganya entah kenapa lebih mahal dari yang di Jakarta Mba. Meski terlihat antreannya panjang, kalau orang2 yg antre di depan udah pada tau mau pesen apa, aku rasa g akan nunggu lama Mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. haiii sesama penghuni fore DU 🤣 jujur buatku Fore tuh malah enakkk banget buat kerja, soalnya aku merasa diterangi cahaya ilahi jadi harus segera beres HAHAHAHA.

      Aku tuh tadi mikir dulu, lha Kak Zi ini tuh dosen marketing-kah? Ternyata anak yg dagang di braga ya wkwkwk. cukup traumatis keknya ya 😂😂 aku tipe yang selalu nolak mereka dari awal soalnya, atau disenyumin dan ajak mereka ngobrol tapi aku yang take control, jadi aku tahu kapan harus selesai wkwkwk.

      Hmmmmm aku masih menunggu Tuku less antre sih yaa, mengingat sekarang bulan Ramadan, keknya antrian tuh bakal lebih mengular gak si,,, (emang mageran anaknya...) tapi asliii penasaran bgt sama rasa Tuku. Hopefully dalam waktu dekat!

      Hapus

Instagram

Gentle Sunday. Theme by STS.