18 Feb 2024

Meskipun sekarang sudah boleh minum kopi (yay!), saya masih doyan mencari artisan tea untuk dicoba. Walaupun jarang ada waktu khusus, sih.

Teapotto adalah sebuah kedai teh kecil yang berada di tengah-tengah kota Bandung. Tempatnya tidak tersembunyi; tapi kalau jarang ke Bandung, sepertinya akan sedikit tricky untuk datang ke lokasinya.

Pertama dengar Teapotto adalah dari adik saya, yang terlebih dahulu ke sana. Sebenarnya tidak ada rencana khusus ke sini sebelumnya; namun saat ada keperluan di tempat lain, ternyata kami melewati tempat ini. Berhubung jamnya juga pas—bukan waktunya kelaparan sehingga butuh makanan berat—jadi kami memutuskan mampir.

Teapotto, sesuai namanya, adalah tempat yang mengkhususkan diri pada teh.

Menu tehnya banyak dan mereka bikin tea blend sendiri. Menyenangkan cium baunya! Harganya pun nggak terlalu mahal. Satu pot teh (berisi separuhnya, bisa refill satu kali) dihargai mulai dari IDR 20.000-40.000.

Uniknya, dari belasan variasi teh yang ada di sana, ada beberapa yang memiliki nama khas Sunda atau berkaitan dengan Bandung. Tibera (tidur) untuk teh lavender yang menenangkan, Tiis (dingin), Bandung Breakfast, dan Dago Mint.

Kalau beli teh dikasih cookies untuk dimakan bersama tehnya. Small treat, but very sensible. Tipe *cookies-*nya kering, tidak terlalu manis, dan tidak mengganggu rasa dan aroma teh yang diminum; sehingga bintang utamanya tetap si teh.

Selain itu mereka juga ada menu makanan berat—menu bergaya Jepang (Sushi, ramen, teppanyaki), serta kue-kue dan dessert. Menu mixology juga ada; basisnya kopi, teh, dan susu.

Menu yang Kami Pesan

Sakura Mille Crepe

Mille Crepe yang sesuai namanya, wangi bunga Sakura! Terasa ringan, dingin, dan manisnya cukup. Itu yang saya suka, karena segar dan cocok dengan tehnya.

Tiis (Tea)

Teh pesanan Abang ini terdiri dari campuran Taiwanese oolong, strawberry, lemon verbena, osmanthus flower & safflower. Sekilas seperti teh biasa, tapi ketika diminum sensasinya segar dan nggak bikin eneg. Tanpa gula enak, dengan gula pun enak. Saya sendiri lebih suka tanpa gula karena aromanya jauh lebih berasa. Tiis sendiri artinya dingin, berasal dari bahasa sunda.

Purple Sparkle (Tea)

Purple Sparkle—blended white peony with butterfly pea tea and rose buds. Warnanya biru karena efek dari bunga telang, dan kalau diberikan perasan lemon (diberikan bersama teh), warnanya jadi ungu. Aromanya jelas wangiii banget. Tapi teh ini hitungannya cukup berat (buat saya), soalnya abis minum agak banyak, asam lambung saya sedikit bereaksi hahahah. Cocok diminum sore hari saat perut sudah tenang dan terisi.

Overall


Masih pengen ke sini karena varian tehnya lumayan banyak; tapi kayaknya pikir-pikir dulu karena jaraknya jauh dari rumah. Kalau ke sini harus ada purpose, misalnya buat kerja atau lainnya.

Tapii sayangnya toilet mereka nggak ter-maintenance dengan baik. Nggak ngerti itu pas saya datang doang atau memang sehari-harinya gitu: air nggak lancar, di-flush susah. Sayang, pengalaman satu itu lumayan mencoreng kesan saya buat tempat ini. Sisanya oke… hahahah. Semoga pas ke sana lagi udah diperbaiki, soalnya ini cerita dari tahun 2023.

Teapotto

Jl. Bengawan No.25, Cihapit, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40114

instagram

28 Jan 2024


 
Tahun 2023 mungkin tahun yang paling terasa cepat berlalu buat saya. Dibandingkan 2022, kepadatannya meningkat sampai 300% (nggak pakai data, cuma pakai perasaan aja). Ditambah lagi karena 2020-2022 masih ada aroma pandemi, yang membuat orang-orang masih “menahan” aktivitas; 2023 menjadi totalitas aktivitas yang membuat semua orang sibuk kemana-mana. Baik saya, maupun Abang, sama-sama cukup kewalahan dengan 2023.

But it also comes with a blessing.

Saya nggak akan bilang saya kembali, karena saya nggak kemana-mana; still navigating my own life phase, dengan segala kesibukan dan segala kepusingannya. Pada akhirnya, Blog itu rumah saya—saya tinggal di sini, cuma kapan bisa ditemui, dan kapan bisa muncul, masih nggak tentu, ha ha ha.

Let’s see, ini dia beragam hal yang terjadi di 2023 dalam uraian singkat… yang mendetail mungkin akan menyusul, seiring waktu.

Kantor Baru, Tantangan Baru

…adalah hal utama yang membuat “rencana kembali” saya terhambat. Kalau 2022 saya dihajar oleh burnout dan working slump, 2023 saya disambut dengan lingkungan baru dan tantangan baru di dalam pekerjaan. Awal Januari saya mendapatkan surat mutasi untuk posisi baru di unit kerja lain. Masih satu instansi, tapi kantornya juga sudah berjarak 2 km dari tempat lama.

Alhamdulillah, hal ini sangat saya syukuri. Walaupun ternyata beban kerjanya jauh lebih banyak dan banyak bikin saya stress karena banyak hal yang masih harus saya pelajari. (perhatikan banyak kata “banyak” di sini). Tapi menyenangkan karena saya dapat banyak sekali ilmu, sesuatu yang agak sulit didapatkan di tempat lama, karena berbagai keterbatasan.

Nevertheless, 2024 menjadi tahun kedua saya di tempat baru. Selama tubuh ini masih sehat, saya masih akan berkarya di sini. I’m starting to enjoy the work and managing it better!


Masuk Rumah Sakit

Pengalaman setelah literally belasan tahun, bahkan lebih. Jadi gini, seumur-umur saya cuma pernah dirawat di rumah sakit di usia sepuluh tahun karena tipes. Itu pun nggak diinfus. Ketika COVID di tahun 2021, saya juga cukup bed restsaja.

Siapa sangka saya kena demam berdarah di awal tahun, ketika mulai memangku tanggung jawab baru dengan kerjaan besar. Kayaknya paduan shock dengan beban kerja, musim hujan, dan stamina yang menurun bikin saya langsung drop nggak tanggung-tanggung. Ternyata demam berdarah nggak enak banget ya…

Untungnya, hanya lima hari saja saya di rumah sakit (+ istirahat di rumah empat hari). Abang harus ambil cuti dari kantor dan bolak-balik untuk menjaga saya. Waktu itu rumah sakit masih dibatasi—masih menggunakan pedoman COVID, tidak boleh ada penjenguk. Kami memutuskan nggak bilang-bilang keluarga sampai waktunya pulang supaya tidak bikin khawatir. Setelah itu alhamdulillah, sehat-sehat terus, semoga seterusnya.

Juggling with Time and Busy-ness

Tema besar tahun 2023 adalah ini, sebenarnya. Beban kerja, banyaknya hal yang harus diatur, dan masih belajar adalah faktor utama. Pandemi hilang, beban kerja divisi saya meningkat karena makin banyak acara luring (offline). Lembur Sabtu-Minggu, berangkat dini hari, atau menginap di hotel yang disediakan kantor, jadi agenda tahun 2023.

Sementara, pekerjaan Abang sudah kembali ke ritme non-pandemi—hal yang belum pernah saya alami setelah menikah, karena beberapa bulan setelah menikah, pandemi merajai Indonesia.

Efeknya apa? Sepanjang tahun, Abang keliling Indonesia. Seminggu di pulau mana, seminggu lagi di pulau mana. Sinyal belum tentu ada. Perjalanan bisa 24 jam menggunakan kapal laut (belum termasuk pesawat yang transit dua kali). Belum lagi pekerjaan standar di kawasan industri yang mengharuskan dia menyetir sendiri.

At one point saat mudik kami baru bisa bertemu di bandara—karena mepet dengan jadwal dinasnya. Ada satu momen saat saya pulang dinas dari Bali, Abang harus berangkat ke Riau. Boro-boro ketemu kangen-kangenan, pulang ke rumah yang ada kosong. Nangis beneran saya teh.

We struggle a lot, I think. Efek dari kerjaan dan adaptasi itu sepertinya membuat banyak momen di mana kami terlibat situasi yang tidak menyenangkan. Namanya juga pahit manis pernikahan, he he. Whatever it is, we survived last year and learned how to love even better. Pokoknya… tahun ini juga kami siap, tapi tolong jangan sering-sering berantemnya ah. HAHAHA.

Jalan-Jalan

Poin plus dari dunia yang sudah kembali berputar ke kebiasaannya semula? Kami bisa traveling lagi! Mudik dengan pesawat tanpa harus melampirkan hasil tes, dinas kantor bisa jauh-jauh. Oke, poin sebelumnya itu jadi halangan, tapi juga jadi momen refreshing buat kami. Kami juga bisa merencanakan jalan-jalan sendiri, walaupun banyak terhalang waktu.

Tahun kemarin saya berkesempatan dinas ke Bali, sekalian jalan-jalan; sementara suami, seperti sudah dijelaskan, keliling pulau-pulau besar dan kecil. Ketika sedang dalam posisi LDM, seru juga mendapatkan info tempat-tempat yang didatangi Abang, karena bukan tempat yang umum bukan wisata. Entah laut yang sangat bersih maupun hutan belantara.

Akhir tahun juga Abang mengajak saya main agak jauh—sesuatu yang tahun-tahun sebelumnya cukup sulit dilakukan karena pandemi, jadwal, dan stabilitas finansial. Semoga 2023 menjadi awal kami untuk bisa traveling bersama lebih sering. Karena jalan-jalan bersama sangat menyenangkan, apalagi kalau untuk nonton….

One OK Rock Luxury Disease Asia Tour!

Gongnyaaa! Bulan September akhirnya jadi kali pertama saya untuk ngonser bareng Abang. Menunggu tiga tahun nggak sia-sia — setelah ter-cancel karena pandemi, One OK Rock kembali datang ke Indonesia, bonus album terbaru.

Meskipun harus war tiket lagi dengan harga yang lebih mahal, bahagia sekali karena album terbaru mereka jauh lebih oke dari album yang 2020, in my opinion. Kalau sempat nanti akan cerita lebih lengkap di post terpisah; karena meskipun udah agak lama nontonnya, masih ingat banget serunya.

Side Hustle

Tahun 2021 menjadi tahun saya mencoba mengaktifkan lagi kerja sampingan—yang telah lama tenggelam digerogoti kesibukan dan kemalasan. Berawal dari mencoba-coba bikin dekorasi rumah dan hadiah, bergeser menjadi undangan, dan saya malah terjun ke mixed media dan desain grafis lainnya. Pendapatannya bisa dibilang nggak banyak dan menghabiskan waktu; tetapi cukup untuk memberikan saya sedikit pengalaman dan rasa percaya diri. Ya, rasa percaya diri karena ternyata apa yang saya buat masih bisa “terpakai” oleh orang.

2021-2022 saya masih bergelut di proyek kecil-kecil. Awalnya di instagram, ternyata pekerjaan mengalir dari Twitter. Untungnya paling cukup untuk makan bakso. Untung yang saya dapat lebih ke kepuasan karena bisa mengembangkan kemampuan yang “terkurung” di pekerjaan sehari-hari. Saya jadi tahu apa yang saya sukai dan apa yang tidak saya sukai, tipe proyek apa yang saya mahir dan masih perlu belajar.

Tahun 2023, karena dapat amanah baru, saya nggak yakin bisa tetap mengerjakan sampingan—tapi ternyata Allah masih memberikan rezeki lewat teman-teman yang baik. Pengetahuan yang saya dapat dari 2021-2022, ditambah network yang didapat di 2023, membuat saya mampu mengerjakan pekerjaan tersebut. Mostly confidential, but I felt confident with myself. Di situ, terasa banget bahwa Tuhan selalu punya rencana dan waktu yang tepat.

Jadi, kalau ada proyek yang berkaitan dengan desain grafis usaha kecil dan desain untuk korporasi, don’t hesitate to contact me. Kalau waktu dan budget kita cocok, bisa dibicarakan 😀

For 2024….

Masih sama; semoga sehat selalu, semoga bisa lebih baik dari tahun sebelumnya, semoga selalu dilimpahkan kemampuan untuk melewati ujian. Tahun kemarin rasanya banyak hal baru yang saya dapatkan. Tahun ini saya ingin lebih matang dan lebih mahir mengelola waktu serta kesempatan yang ada.

Satu kata untuk tahun ini… barangkali… “sehat”. Karena tahun kemarin belum tahu cara mengelola beban, belum bisa memprediksi beban yang ada, saya cenderung tenggelam ke pekerjaan dan berkali-kali mengalami burnout. Kerja kerja kerja terus, entah utama maupun sampingan. Tahun ini saya ingin lebih seimbang, termasuk ingin menulis blog lagi secara rutin, dan menulis hal-hal lain… apa pun yang saya sukai.

Here’s for a joyful and healthy self in 2024!

Salam,

Mega

21 Mei 2023

Hai, hai! Kalau kalian membaca post ini sekarang, mungkin ada dua penyebabnya: Kalian menavigasi lewat website, atau masuk ke sini dari link di blog saya yang lama. Either way, selamat datang! Saya Mega, dan ini rumah baru saya.

Personal blog di tahun 2023 makin menjadi barang langka. Memang, komunitas blogger masih ada di Indonesia, tapi persentasenya makin sedikit. Sosial media adalah primadona sekarang; di mana semua orang berkumpul, di alun-alun besar, bicara, mengobrol, dan meneriakkan “konten” mereka.

Selama berhenti nge-blog, saya kembali hanya menjadi pembaca dan pengonsumsi konten. Saya menyukai konten tentang kehidupan sehari-hari, hal yang menjadi perhatian di “mata” pemiliknya – seperti blog-nya Jane, Lia, atau Kang Ady. Sosial media terlalu “berantakan” bagi saya. Dan sedikit membosankan, no? Semua punya layout yang sama.

Selama menjadi pembaca, saya merasakan bahwa saya kangen dengan “mengintip” kehidupan orang lewat blog. Saya kangen membaca blog yang menceritakan kehidupan sehari-hari secara sederhana, yang membuat saya merasa mengenal lebih dekat penulisnya meskipun tidak saling bersapa.

Hal itu justru malah sulit dilakukan oleh saya sendiri. Looking back, blog saya yang lama adalah tempat saya untuk belajar. Tapi juga kurang sentuhan personal yang justru saya cari dari blog orang. I long for my own bravery, keberanian untuk menuliskan apa saja yang ada di pikiran, tanpa berpikir bahwa menulis di blog adalah “hal yang besar”.

Maybe, blame social media. Maybe, blame myself. Membuat tweet lebih mudah daripada memikirkan ide post, menggabungkan montage video lebih cepat mendapat engagement daripada tulisan nan panjang seperti diary. Tapi saya ingin mencoba semuanya, dan ingin mengarsipnya di satu tempat.

Saya ingin menciptakan rumah online yang nyaman untuk diri sendiri, sebagai pembaca pertamanya. Menyingkirkan kekhawatiran itu, semoga rumah baru ini jadi tempat yang nyaman.

A Center of My Online Life

Rencana jangka panjang adalah menjadikan domain ini sebagai “tempat nongkrong utama” saya. I know, dengan tak bisa dihindarinya media sosial, akan agak sulit, tapi juga saya jadikan sebagai tantangan. Selama saya “nongkrong” di tempat privat, saya mendapati ada beberapa topik yang sering saya bahas, tapi herannya nggak pernah saya tulis di blog saya sendiri. So, I hope we'll get to see it here!

The Website

Basis dari website ini adalah google sites homepage yang bisa ditemukan di sini. Kalau mau melihat artikel saja, bisa dicek di blog. Tapi kalau mau lihat segala macam update terbaru, Home Website adalah tempat terbaik. Ke depannya, saya juga nggak hanya akan mencantumkan konten artikel, tapi juga konten video dan lainnya, kalau ada. Amiiin.

The Blog

Heart of the content, berisi berbagai artikel dan utamanya adalah pendapat personal. Sebagian besar post dari blog yang lama masih saya masukkan karena tulisan-tulisannya masih berharga. Isinya sudah pasti gado-gado; tapi mostly temanya bisa ditemukan di tab bagian atas. Tentang hidup 9-5, tentang berhemat, tentang hal-hal yang saya jadikan alasan untuk pemborosan. Ada beberapa tulisan yang saya tulis selama berhenti ngeblog di publik, dan saya masukkan juga ke blog ini, akhirnya. Do people still read blogs (selain blogger, tentu saja)? Nggak tahu juga. But I love rambling, so that’s enough. 

Shop Notes

Ini halaman baru yang awalnya saya buat untuk membantu diri sendiri. Awalnya saya suka menggunakan fitur wishlist dari aplikasi belanja online. Tapi karena wishlist saya banyak dan aplikasi yang saya pakai juga banyak, jadi saya mencatatnya di notes–yang kemudian jadi halaman ini. Simply because pretty pages attracts me more, dan siapa tahu bermanfaat untuk orang lain. Produk yang saya tulis di halaman itu hanyalah produk yang memang sudah benar-benar saya suka dan pakai. Untuk wishlist dan barang-barang lainnya juga bisa melihat di tab shop pada blog.

Library

It’s an experiment–sebuah “perpustakaan” berisi film, lagu, dan buku yang saya konsumsi. Sebenarnya ini adalah perwujudan keinginan “cerita, tapi nggak usah review”. Berhubung saya nggak minat bikin review buku/film kecuali niat banget, jadi saya menggunakan halaman ini sebagai tempat mendokumentasikannya.

Halaman ini masih akan bertransformasi. Ada rencana jangka panjang dalam penyusunannya. For now, enjoy the content and happy exploring! Walaupun most likely nggak ada apa-apa sih, daftar aja biar saya inget 🙂

Newsletter and Social Media

Of course I still got my newsletter. Tapi untuk saat ini akan ditahan dulu; I will write after there’s enough content and I know what to write there. As for social media, ada beberapa link media sosial yang saya miliki, tapi tidak benar-benar digunakan (hanya post media saja).Saat ini saya hanya menggunakan twitter, yang bisa di-follow di  @gentlesundayy.

Mengapa masih menggunakan media sosial? Kembali ke masalah pertama; personal blogging saat ini bukanlah hal yang populer. Saya senang bergaul dengan sesama blogger, tapi juga ingin mencapai orang-orang di luar sana – mereka yang memilih membuat konten di platform lain, atau simply berbagi lewat akun base. Kalau kalian punya twitter, feel free to follow and mention me to follow you back – especially fellow personal bloggers!

Interactions & Activity

I am never the one who can socialize much. Setiap kali merasa overwhelmed biasanya saya akan retreat–melindungi diri di media sosial privat yang sangat terbatas. Hal inilah yang terjadi satu tahun terakhir.

Kolom komentar di blog ini masih terbuka (kecuali di beberapa post yang saya pikir tidak membutuhkannya). Tapi saya mungkin tidak bisa membalas cepat. I need time to reply to comments, dan kadang menjawab sekaligus bisa bikin saya capek dan susah nulis karena kepikiran… ha ha. So, just a heads up supaya saya bisa lebih tenang.

Something I love is leaving comments on friends' blogs. Komentar di blog ini membuat saya tahu siapa yang masih aktif ngeblog dan siapa yang bisa saya kunjungi. Jadi, tunggu kehadiran saya di blog teman-teman ya. Cie. In the meantime, feel free to reach me through twitter, akses media sosial yang paling nyaman untuk saya saat ini.

A Gentle Home for Myself

Belajar dari blog sebelumnya, I think what kills my passion for blogging adalah my own perfectionism. Bahwa tulisan saya harus benar-benar “matang” dan “terencana”. Just like my own digital magazine, which I’ve been proud of. Tapi kadang hal itu bisa jadi halangan tersendiri. Karena itu, domain baru ini adalah cara saya “mendobrak”nya.

Place to Think

Di mana saya ingin menulis tanpa batasan. Selama berhenti ngeblog, saya masih aktif di sosial media privat yang hanya berisi teman-teman terdekat (yang saya ketahui di IRL dan memang sering berjumpa). Saya masih suka berpendapat secara tertulis, terkadang panjang dan berantai. Saya berpikir–seharusnya saya bisa menulis omongan saya itu di blog; di sisi lain, saya berpikir bahwa blog saya bukanlah tempat untuk tulisan “setengah matang”.

Karena itu, harap maklum kalau di sini akan ada banyak tulisan setengah matang atau malah nggak jelas. I love rambling and I might do more. Termasuk tulisan yang campur-aduk Indonesia dan Inggris ini.

Place to Explore

Di mana saya bisa menuliskan apa saja tanpa takut dengan kategori-kategori. Saya bisa menulis artikel tentang menjaga kesehatan pikiran di satu hari, lalu bikin review anime favorit sepanjang hidup di hari lainnya. Saya bisa mem-posting review parfum di satu hari dan curhat tentang makanan favorit esok harinya. Memang, dulu juga nggak ada yang ngelarang; tapi anehnya, saya sendiri yang membatasi. Ha ha ha….

I want to know and document what I like. Menulis blog ini juga akan jadi bagian saya mengingat serta mengenal diri sendiri. Terbiasa menggunakan media sosial membuat pikiran yang saya sampaikan jadi pendek dan putus-putus. Semoga saya bisa kembali terbiasa menulis di blog, menyampaikan isi pikiran dengan bebas, karena itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan blog pertama kali.

Place to Escape

Di mana saya kembali menjadikan blog ini hobi. Jujur, setahun terakhir saat saya berhenti ngeblog, saya mencoba mencari hobi baru (selain pekerjaan sampingan). Nonton, baca, olahraga, apa pun. Pada akhirnya selalu mentok, kayak ada yang kurang. Saya menemukan film favorit baru, novel favorit baru, menemukan olahraga yang bisa saya lakukan tanpa nangis. Tapi saya masih merasa perlu tempat yang nyaman yang bukan media sosial.

And so here I am. Berhenti blogging, lalu kembali. Entah untuk berapa lama, entah berapa rajin. Tapi saya yakin saya akan tetap kembali di sini, di sudut personal untuk saya sendiri. I want to take time for myself and this blog. And if you’re here to watch my journey, please enjoy yourself at this place too.

Salam,

Mega

14 Mei 2023

Setelah enam bulan lebih, ini waktunya mengupdate skincare sehari-hari. Sekarang skincare saya cenderung lebih sederhana, karena pagi dan malam hampir tidak ada bedanya. Kondisi kulit saat ini pun cenderung stabil. Dari yang dulu berminyak dan ladang jerawat, lalu jadi berminyak dan sensitif, sekarang berubah menjadi kering-sensitif dengan tanda-tanda aging. Untuk kulit usia 30-an, saya merasa kulit saya sekarang terhitung cukup oke.

As of May 2023, my skincare routine is something just like this:

The Main Players

First Cleanser (Night Only) - Heimish All Clean Balm

Kayaknya nggak akan berubah dari yang ini selama masih dijual. Glides smooth at skin, membersihkan tanpa mengeringkan, dan isinya cukup banyak sehingga awet. saya cuma pakai malam hari dan kalau hari itu pakai base make-up. Kalau hari itu lipstik saja, kadang di-skip.

Beli di shopee / Beli di tokopedia

Face Wash - Mamonde Triple Multi Cleansing Foam

Face wash hasil memenuhi wishlist di skincare routine yang lalu. Sebelumnya pernah pakai sample mamonde dan cukup nyaman, jadi coba beli karena ukurannya super besar. Awal-awal penggunaan cukup bikin kering. Ternyata itu karena saya kurang me-lather busa di tangan sebelum digunakan. Saat ini the face wash functioning just fine, tapi kayaknya pengen ganti yang lebih gentle.

Wishlist: (masih)  Benton Honest Cleansing Foam

Toner - The Aubree Botanical Calendula Toner

Awalnya mau beli SNP, tapi jiper karena ukurannya kok besar banget. Kebetulan The Aubree sedang diskon lumayan jauh, jadinya coba beli deh. Harganya cukup murah; di bawah 100rb untuk 200ml.

Sudah lama nggak pakai toner bertekstur encer rupanya bikin saya kagok. Karena encer = butuh pemakaian lebih banyak, kemungkinan masa pakainya nggak akan lama, nih. Klaimnya lembut dan menenangkan untuk sensitif; saat saya pakai masih ada sensasi pedih walaupun sedikit. Plusnya dia mudah menyerap. Masih harus dicoba apakah efeknya memang oke atau saya harus balik lagi.

Masih penasaran mau coba SNP Prep, tapi galau juga apakah harus kembali ke COSRX Propolis toner yang setia menemani sebelumnya.

Beli di shopee / Beli di tokopedia

Wishlist: SNP Prep Peptaronic Toner

Moisturizer - Illiyoon Ceramide Ato Concentrate Cream

Dengan harga yang murah dan isi yang banyak, tentu saja ini pelembap nggak habis-habis. Sekarang sih masih ngabisin aja sampai nanti ganti jadi COSRX lagi. Teksturnya cukup kaya, mudah menyerap, tapi terasa sedikit “tebal” dan agak merepotkan kalau harus digunakan saat sedang buru-buru.

Beli di shopee / Beli di tokopedia

Sunscreen - APIEU Pure Block Sun Cream, Nivea Sun SPF 50 PA++++ Sun Serum

Saya mencoba move on dari sunscreen Nivea dengan memenuhi wishlist di skincare routine sebelumnya. Tapi sayang sekali saudara-saudara, APIEU masih kalah jauh. Teksturnya terlalu berat, jadinya lengket. Masalah utamanya adalah sunscreen tersebut whitecast di saya, jadinya wajah saya terlihat abu-abu. Untuk perlindungannya sih bagus; saya merasa malah lebih bagus dari Nivea.

Pada akhirnya saya kembali ke Nivea Sun Serum karena teksturnya yang lebih ringan, mudah menyerap, dan nggak bikin wajah abu-abu. Sekarang belum tahu mau pakai sunscreen baru apa, jadi masih akan bertahan pakai Nivea. Mau pakai Anessa masih di luar budget soalnya, hiks.

Nivea: Beli di shopee / Beli di tokopedia
Apieu: Beli di shopee / Beli di tokopedia

The Add-Ons

Serum - The Aubree 10% Vitamin C Serum

Karena alasan personal, saya berhenti menggunakan Votre Peau Vitamin C serum dan mencari alternatif lainnya. The Aubree adalah merek lokal yang reviewnya cukup baik, dan kebetulan mereka punya varian serum vitamin C, jadi saya coba. Sejauh ini belum ada efek apa-apa yang signifikan; di kulit pun tidak terasa pedih atau sakit, jadi mungkin aman. Mari kita lihat evaluasinya beberapa bulan ke depan.

Beli di shopee / Beli di tokopedia

Serum - Avoskin  Your Skin Bae Niacinamide 12% + Centella Asiatica

Dibeli karena dua alasan. Yang pertama, pulang berenang dari waterpark, kulit saya super gosong. Tahu sih penyebabnya karena sunscreen yang nggak tahan air. Tetap saja shock karena kulit saya pedih terbakar, dan berikutnya tanning. Cushion yang biasa dipakai pun jadi nggak cocok lagi. Langsung puyeng deh.

Sejauh ini saya pakai setiap pagi. Tidak ada reaksi alergi dan nyaman-nyaman saja. Kulit saya lumayan terlihat lebih baik dari kemarin, tapi mari kita lihat perkembangannya beberapa waktu ke depan.

Beli di shopee / Beli di tokopedia

Booster - Haple Rose Cloud Booster

Produk ini nggak begitu nyaman di kulit saya, jadinya jarang saya pakai. Karena itu juga sisanya masih banyak (hahaha), jadi ya masih saya pakai saja. Sudah tinggal sedikit lagi. Sesuai dengan prinsip, habiskan dulu, baru mencoba lagi yang baru. Varian ini juga sepertinya sudah tidak dijual lagi oleh Haple.

Wishlist: MISSHA Time Revolution The First Treatment Essence RX

Face Oil - Haple Face Oil (Almond)

Holy Grail part two yang hampir habis juga. Kemungkinan tidak akan repurchase dulu karena bergantian dengan serum yang sekarang sedang dipakai. Atau mungkin ingin coba face oil merek baru? Ya, siapa tahu.

Beli di shopee / Beli di tokopedia

Wishlist: COSRX Ultimate Nourishing Rice Overnight Mask

What Didn’t Work for Me

Somethinc 1% Encapsulated Retinol

Mungkin terlalu keras di kulit, mungkin saya yang metode memakainya nggak benar. Saya nggak tahu. Tapi, yang pasti retinol ini bikin dry patch di kulit makin parah dan malah makin sensitif. Setelah sebulan mencoba, I decided to let it go. Setelah tidak cocok dengan retinol berbentuk serum, rencananya saya mau mencoba yang bentuk toner, dengan harapan lebih ringan dan lembut untuk kulit.

Wishlist: Avoskin Miraculous Refine Toner

What's your current skincare routine?

7 Mei 2023



Husband said I need to go outside at least one day at the weekend, so he took me to search for some new cafes to try. (Sebenernya saya selalu yakin kalo saya tuh anak rumahan, tapi dipikir-pikir nggak salah Abang ngomong gitu, soalnya kalo saya di rumah doang  pas weekend, saya jadi gampang nangis).

Awalnya sih mau ngecek kafe yang ada di Kota Baru Parahyangan, berhubung dekat dari rumah. Tapi Abang bilang nggak ada yang menarik, jadi kami pergi ke daerah Ciumbuleuit. Katanya ada kafe tempat teh yang bagus. Setelah memastikan tempatnya ada, kami pun pergi menembus macet Bandung di Minggu siang (ha ha).

Di tengah perjalanan saya baru sadar kalau ini adalah tea house yang sempat di-review oleh @widino, influencer yang memang sering membahas soal teh. Ini berarti tempatnya kemungkinan akan penuh. Benar saja, saat kami datang parkiran yang kecil padat dan orang-orang datang hilir mudik. Tapi tempat kosong masih tersedia. Begitu satu meja kosong, akan langsung ditempati, dan begitu seterusnya.

Edelweiss Tea & Coffee House memang berada di pusat daerah wisata Bandung, Ciumbuleuit; tapi tempatnya agak tersembunyi. Berada di pojokan jalan kecil, kalau tidak sengaja dicari, mungkin akan sulit menemukannya. Areanya tidak terlalu besar tapi nyaman karena mayoritas outdoor. Dari area outdoor kita bisa melihat pemandangan daerah Ciumbuleuit yang berbukit, meskipun memang tidak terlalu cakep–yang saya lihat adalah genting tetangga dan beberapa pohon rimbun.

Kalau menurut saya yang orang Bandung ini, pemandangannya memang biasa saja. Apalagi saya tinggal di tempat tinggi yang menghadap langsung pemandangan Bandung dan Cimahi (ha ha, sombong). Tapi kalau saya memandang dari perspektif orang Jakarta yang sering main ke Bandung buat healing, lokasinya memang lumayan cakep dan tersembunyi.

Waktunya mengatakan satu istilah yang overrated: hidden gem… 🙂

Menu yang Tersedia

Sebenarnya Edelweiss ini cafe serba ada dan serba guna. Cocok untuk berkumpul teman dan keluarga. Makanan ringan dan berat tersedia, seperti nasi goreng, mie goreng, sup, sampai pizza. Harganya berkisar menengah ke atas; untuk satu porsi makanan dan minuman, kira-kira perlu sekitar 150.000 rupiah per orang. Wajar karena kafe ini memang berada di daerah wisata yang dituju turis ibukota.

Toh tujuan kami bukan makanan berat. Yang membuat kami datang kesini adalah karena Edelweiss menyediakan artisan tea racikan sendiri. Tidak tanggung-tanggung, ada satu lusin! Tidak ada loose tea leaf yang bisa dibawa pulang, jadi hanya bisa kita rasakan langsung di tempat. Harganya mulai dari 25.000 rupiah - 45.000 rupiah, sudah termasuk kesempatan refill dua kali.

Yang saya suka dari teh-teh ini, selain aromanya, adalah namanya. Kalau pakai istilah jaman sekarang, namanya aesthetic dan satu tema, menggunakan bahasa Sansekerta.

What We Tried

Double Cheese Pizza

Pizza-nya adalah tipe pizza tipis yang renyah dengan toping saus tomat dan dua jenis keju. Ukurannya lumayan besar. Dimakan berdua masih sangat mengenyangkan. Enak dan cocok jadi menu untuk dimakan ramai-ramai.

Artisan Tea - Pramudya Maheswari

Teh beraroma buah yang ringan dan segar. Notes-nya terdiri dari black tea, mangga, peach, tidak lupa apel dan serai. Rasanya kayak fruit tea tapi tanpa gula. Kalau dicampur gula, malah jadi kurang sedap karena rasa segarnya hilang. Enak banget.

Artisan Tea - Indurasmi

Teh unik dengan notes kurma, fig, kayu manis, apel, jahe, coklat, dan vanila. Saya kira berat, tapi ternyata teh ini tetap ringan dan tidak pahit. Ada rasa dan aroma nutty serta kokoa yang menonjol dari teh ini. Setelah dicoba ditambahkan gula, ternyata rasa teh ini jadi lebih mantap. Enaaak banget part 2, tapi harus diminum manis, in my opinion.

Final Verdict

Dari segi menu makanan berat, saya nggak terlalu tertarik, mungkin karena saat datang kami sedang tidak lapar. Menu dessert-nya juga menurut saya tidak ada yang istimewa. Tetapi sampling dua jenis teh artisannya adalah pengalaman yang menyenangkan. Ingin balik lagi tapi males juga ketemu sama macetnya. Mungkin kapan-kapan kalau ada waktu di hari biasa…

Oh ya, di sini kursinya hanya cocok untuk ngobrol-ngobrol. Kurang nyaman untuk dipakai bekerja. Mungkin karena tempatnya memang ditujukan untuk jadi tempat kumpul-kumpul. Jadi saya bingung juga nih kapan lagi bisa ke sini, mengingat tidak enak untuk jadi tempat nongkrong sendirian tanpa ngapa-ngapain, hahaha.


Edelweiss Tea & Coffee House

Jl. Neglasari Dalam No.7, Ciumbuleuit, Kec. Cidadap, Kota Bandung, Jawa Barat 40141
Instagram: @edelweisscafe_
Menu bisa dicek di Pergikuliner



@gentlesunday waktu itu, sebelum Ramadan; Edelweiss Cafe, Hegarmanah. Nyobain artisan tea yang enaaak dan nggak begitu mahal. light meals-nya so so karena ke sini emang ngincer teh-nya. Will definitely come again. sayangnya tempat dan parkirannya nggak begitu besar, so pay attention kalau datang di jam padat dan bawa kendaraan. #kulinerbandung #dinklifestyle #weekendstory #lifestyleblogger #datespots #artisantea #teatok #cafereview #danbandung #weekendvibes #fyp #fypdongggggggg ♬ Cafe Music - Oleg Kirilkov

30 Okt 2022

Skincare Routine


As of October 2022, my skincare routine is something just like this:

Morning Routine

Face Wash - Wardah Hydra Rose Gel Foam Cleanser

Dibeli karena murah dan ingin mengetes apakah saya cocok pakai produk wardah. Bisa dibilang nggak bikin masalah ke kulit tapi nggak bisa bilang cocok. Just so-so dan harus di-layer lagi supaya wajah tetap lembap. I’m looking for a replacement.

beli di shopee 

Wishlist: Benton Honest Cleansing Foam

Toner - COSRX Propolis Toner

Masih jadi toner favorit karena melembapkan dan menenangkan. Juga nggak ada masalah dan harganya masih cocok di kantong, karena dengan harga segitu, awet. Tapi dengan dolar yang naik akhir-akhir ini, rasanya jadi pengen cari alternatif yang lebih murah… meskipun bukan prioritas.

beli di shopee 

Wishlist: SNP Prep Peptaronic Toner

Moisturizer - Illiyoon Ceramide Ato Concentrate Cream

Belum naik status jadi holy grail tapi ini bagus banget! Terutama dengan harga yang murah dan isi yang banyak hahaha. Andalan saya sekarang masih COSRX Oil-free moisturizer, karena teksturnya lebih ringan dengan kelembapan yang sama. Kembali lagi ke alasan dompet, sekarang saya stay dengan Illiyoon dulu.

beli di shopee 

Sunscreen - Nivea Sun SPF 50 PA++++ Sun Serum

Sudah pakai tiga tahun dan masih belum menemukan yang bagus. Masalah saya dengan ini adalah ukurannya terlalu kecil jadi cepat habis. Sedangkan harganya juga agak susah diprediksi, bisa naik-turun banget bun. Sweet spot saya adalah yang harganya sekitar 10-15rb per 10ml, jadi sedang mencari alternatif.

beli di shopee 

Wishlist: APIEU Pure Block Sun Cream, 3W Clinic Intensive UV Sunblock Cream


Night Routine

First Cleanser - Heimish All Clean Balm

Produk yang sudah jadi holy grail (oh, finally). Glides smooth at skin, membersihkan tanpa mengeringkan, dan isinya cukup banyak sehingga awet. Ketika awal rilis dan jadi favorit para beauty blogger dan vlogger, harganya sempat meroket sampai saya kira ini merek elit. Ternyata sekarang harganya sudah stabil dan nggak mahal-mahal amat.

beli di shopee 

Second Cleanser - Senka Perfect Whip Cleansing Foam

So-so di kulit, bikin sedikit kering tapi masih bisa ditambal oleh Illiyoon. Saya suka ini karena harganya nggak mahal dan isinya banyak; sayangnya dia nggak meninggalkan kesan sampai saya harus googling dulu ketika mau mengetik namanya. So I’m looking for a replacement, dan kalau ga cocok sama si replacement, akan balik lagi ke sini.

beli di shopee 

Wishlist: Mamonde Triple Multi Cleansing Foam

Toner - COSRX Propolis Toner

Is it alright to use two kinds of toner for day and night? Selama keduanya melembapkan? If so, saya kayaknya bakal nyari toner yang berbeda buat malem just for the sake of beli barang baru. Lol.

Booster - Haple Rose Cloud Booster

Saya suka produk-produk Haple, tapi kurang suka produk ini. Booster dimaksudkan untuk dipakai sebelum face oil, dengan klaim agar produk lebih menyerap. Tapi entah apa kandungan yang ada di dalamnya, saat dipakai, booster ini cukup bikin perih muka dan membuat kulit memerah, jadi kalau kulit saya sedang sensitif, saya nggak pakai. Untuk ke depannya, mungkin pakai face oil cukup dengan toner, tidak perlu booster. Atau pakai essence.

beli di shopee 

Wishlist: MISSHA Time Revolution The First Treatment Essence RX

Face Oil - Haple Face Oil

Holy Grail part two. Saya sekarang sedang menggunakan almond face oil. Mungkin akan dicampur dengan oil lain kalau ingat. Nggak aneh-aneh, tapi menjaga kulit tetap lembap, dan katanya (katanya ya), rahasia awet muda orang Perancis itu karena setiap malam selalu pakai face oil. So off we go.

beli di shopee 

Moisturizer - Illiyoon Ceramide Ato Concentrate Cream

Lagi, karena saya nggak punya moisturizer khusus. I’m looking for a sleeping mask, tapi sekali lagi, karena belum ada urgensi, jadinya ya nggak beli-beli. Moisturizer ini juga tidak selalu dipakai saat malam hari, tergantung kondisi kulit saja.

Wishlist: COSRX Ultimate Nourishing Rice Overnight Mask


Treatment

COSRX BHA Blackhead Power Liquid

Masih bingung cocok atau enggak dengan BHA. Karena saya kadung takut dengan sifatnya yang aktif, jadinya saya pakainya nggak begitu rutin. Sejauh ini sih kesan yang dialami: kadang bikin dry patch, kadang juga bikin lembab tapi juga sensitif. Karena hal ini, saya pikir setelah toner yang sekarang habis, saya nggak akan beli lagi. Mau cari eksfoliator lain yang lebih aman, misalnya PHA.

beli di shopee 

Somethinc Level 1% Encapsulated Retinol

Serum retinol pertama saya dalam rangka menyentuh usia 30 tahun. Dari dulu selalu takut mau coba retinol, karea (lagi-lagi) takut terlalu keras pada kulit. Di luar dugaan, rasanya nyaman-nyaman saja. Karena saya baru banget beli serum ini, jadi belum tahu efek jangka panjangnya. Sekarang inginnya sih bisa rutin saja, karena kalau pulang kantor rasanya males banget mau skincare-an.

beli di shopee 


Instagram

Gentle Sunday. Theme by STS.