Mindful Skincare Approach, Untuk Kulit (dan Dompet) yang Lebih Bahagia

from unsplash; Anastasia Ostapo / Valeria Miller

Dibandingkan saya waktu masih sekolah, anak sekolah sekarang sudah lebih fasih soal perawatan wajah dan tubuh. Zaman dulu paling banter saya kenal sabun pembersih dan pelembap. Mengenal itu saja sudah berasa “dandan” banget.


Sekarang, anak SMP saja sudah hafal apa itu 10-step-skincare.


(Betewe, berasaaa banget deh nulis “anak sekolah sekarang” di sini. Ternyata emang saya udah ngga muda-muda amat hahahaha)


Berbeda dengan dulu, sekarang pilihan brand skincare sudah jauh lebih banyak. Kita bisa memilih merek dengan bahan yang sesuai dengan kulit kita.


Edukasi tentang bahan-bahan skincare juga mudah didapat. Kalau dulu kita hanya mengandalkan “apa yang dipakai ibu” atau “apa yang baru dibeli teman” sekarang sejuta informasi di internet bisa didapat dengan mudah.


Mulai dari review di blog, video, info produk di instagram, sampai deretan ingredients yang tercantum di skincarisma. Kalau begini, harusnya merawat kulit menuju #2021glowing lebih mudah, dong, ya?


Harusnya. Karena tidak juga.


Nyatanya, (saya) malah jadi pusing. Beruntunglah orang-orang yang bisa menggunakan banyak produk dalam satu waktu dan bisa mengakomodasi perubahan skincare-nya seiring waktu. Soalnya, saya nggak bisa sama sekali. Ha ha ha!


Skincare Overload: Ketika Perawatan Kulit Malah Jadi Rumit


Setiap hari rasanya selalu ada produk baru. Selalu ada cara baru mencuci muka, selalu ada cara baru untuk merawat.


Rasanya setiap waktu selalu ada metode yang ternyata harus diperbaiki, ternyata ada masalah kulit yang selama ini kita tak pedulikan (oh my, harus nambah produk baru lagi!), lalu ada masker atau serum baru untuk menangkal “problem” yang baru muncul tersebut.


Belum lagi kalau sudah bicara soal perawatan khusus dan gadget. Dulu jade roller, lalu gold mask, lalu facial ini-itu, berlanjut ke suntik itu dan anu.


(Saya nggak sampai situ sih… budget-nya gak nyampe. Hihi)


Apakah setelah itu kulit jadi lebih baik? Kalau beruntung sih iya.


Masalahnya, kulit yang lebih baik pun tidak selalu membuat saya bertahan dengan satu produk. Seringkali ada rasa penasaran dalam rangka mencari “produk yang terbaik”.


Padahal, banyaknya produk yang digunakan tidak menjamin kulit akan lebih baik. Bisa saja kulit kita justru bingung dengan zat yang digunakan, atau malah iritasi karena terlalu banyak yang dipakai.


Selain itu, saya jadi merasa rutinitas skincare ini jadi menyita perhatian saya lebih dari yang seharusnya.


Baca review tidak cukup satu, membandingkan tidak cukup dua produk juga. Pokoknya harus riset set set, dan akhirnya tetap mencoba minimal dua.


Kalau memang pekerjaan saya memang ada di ranah review dan research skincare, ya nggak masalah. Tapi saya hanya pengguna, dan seharusnya skincare itu efisien: bermanfaat, tapi tidak menghabiskan waktu dan biaya.


Siapa yang merasa “terjebak” dalam lingkaran mencari produk terbaik? Saya yakin, tidak hanya saya yang begini.

from byrdie.

Melakukan Mindful Skincare Approach


Gaya hidup minimalis sedang ngetren beberapa tahun belakangan, namun ini tidak selalu harus diaplikasikan kepada seluruh aspek kehidupan. Nggak masalah memiliki koleksi yang banyak kalau memang alasannya kuat dan kamu nggak terganggu dengan itu.


Misal, seorang yang memang mencintai mode, wajar saja kalau koleksi pakaiannya banyak. Toh dia memang mencintai pakaian dan itu sudah jadi bagian kepribadiannya.


Kalau mendadak harus ditarik semua dan diganti jadi baju hitam-putih atau kaos yang sama a la Steve Jobs dan Mark Zuckerberg, yang ada malah stres.


Hal yang sama berlaku juga untuk perawatan kulit. Mungkin ada yang memang suka menghabiskan waktu untuk merawat kulit, karena faktor therapeutic dan hobi.


Ada yang menganggap merawat kulit adalah bagian dari quality time, ritual spesial yang tidak masalah dilakukan berlama-lama.


Tapi kalau saya, lebih banyak malasnya (ha ha). Sebelumnya saya pernah mencoba 10-layer Korean skincare yang femes itu, tapi bukannya jadi rajin, malah saya malas.


Kalau ada yang nyasar ke artikel ini entah dari google atau dari mana, mungkin pernah memikirkan beberapa hal di bawah:



  1. Apakah selalu merasa kehabisan waktu ketika melakukan rutinitas skincare?

  2. Apakah rutinitas yang ada seringkali terlewat karena malas, namun tidak ingin mengubahnya karena merasa itu yang benar?

  3. Apakah sudah mencoba berbagai produk, tapi sepertinya kondisi kulit tidak juga membaik atau meningkat?

  4. Apakah merasa waktu habis untuk mencari “produk yang sempurna”?

  5. Apakah keinginan untuk “mencoba produk baru” mulai dirasa merepotkan?


Kalau memang dirasa sudah overwhelmed, mungkin sudah saatnya menarik rem, menekan tombol reset, dan memikirkan kembali: apa yang kulit butuhkan?


Mindful skincare bagi saya adalah memikirkan sebaik-baiknya apa yang dibutuhkan oleh kulit dan tidak “boros”. Boros dalam hal pikiran, boros dalam hal finansialnya juga sebagai bonus.


Mindful juga bisa berarti memikirkan benar-benar produk yang akan digunakan: apakah berasal dari perusahaan yang etikanya baik dan berbahan dasar baik; membayar pekerjanya dengan layak, dan sebagainya.


Saat ini fokus saya ada pada ritual yang dilakukan setiap harinya, beserta produk yang dipakai.


Saya memang tidak pernah punya perlengkapan skincare yang memenuhi lemari, tapi perlu diakui, saya juga mudah tergoda review ini-itu dan mencoba hal baru. Tidak sedikit skincare yang akhirnya saya buang karena sudah kadaluarsa.

Mindful skincare bagi saya adalah memikirkan sebaik-baiknya apa yang dibutuhkan oleh kulit dan tidak “boros”.


Karena hal ini juga, saya jadi menahan diri ketika hendak membeli produk yang “agak mahal”. Takut tidak terpakai karena masih banyak produk lain. Jadinya tidak bisa maksimal, kan.


Setelah berpikir dan kena tegur adik serta suami (hahaha), sebenarnya perawatan yang saya butuhkan tidak ribet-ribet amat. Yang diperlukan saya adalah konsistensi serta tahan godaan dari mencoba produk baru. 😅


Selain itu, saya nggak punya waktu banyak untuk mengaplikasikan seabrek perawatan khusus setiap harinya. 10-layer Korean Skincare buat saya sama dengan membuang waktu kebanyakan.


Mending mengerjakan hal lain: seperti goleran atau peluk suami. Eh, lho, salah ya?

unsplash; priscilla du prez


Sempurna Itu Tidak Ada…


Termasuk dalam hal produk skincare. Karena sempurna itu hanya ada di lagunya Andra and The Backbone.


Tidak ada produk yang bisa menyingkirkan semua masalah kulit, dan belum tentu masalah kulit berasal dari produk yang dipakai. Lagipula, efek pemakaian skincare baru terasa setelah 2-3 bulan pemakaian.


Ini berarti, idealnya tidak mengambil kesimpulan saat produk baru dipakai satu bulan apalagi seminggu. Ini pengecualian untuk reaksi alergi, yang biasanya muncul 2-3 hari setelah pemakaian.


“Tidak menghasilkan efek signifikan” bukan berarti tidak cocok. Gantilah produk saat sudah habis, agar tidak mubazir.


Kembali Pada Fokus Merawat Kulit, dan Bukan Mencoba


Ketika mulai merawat kulit dengan “serius”, kita dihadapkan dengan berbagai pilihan. Berbagai zat unggulan, metode, yang sepertinya semua harus dicoba agar optimal.


Lambat laun fokus pun berubah: bukan untuk memberi makan kulit, namun untuk mencoba produk. Setiap keluhan ditangani dengan produk baru tanpa menyadari penyebab dari keluhan tentang kulit tersebut.


Setiap kali hendak mencoba produk baru karena rekomendasi atau iklan, baiknya tanya kepada diri sendiri: Apakah benar-benar perlu mencoba produk tersebut? Mengapa harus mencoba, dan apakah harus sekarang?


Apakah yakin akan konsisten dalam memakainya, atau hanya coba-coba saja?


Tidak perlu takut ketinggalan kereta. Karena kulit hanya perlu dirawat, dan produk baru tidak selalu akan jadi jawabannya. Kulit memang tidak bisa bicara, tapi bisa “didengar” kok. Pantau kondisinya setiap hari dan gunakan produk sesuai kondisi kulit saat itu.


Mengurangi Produk yang Tidak Perlu


Efek dari sering coba-coba itu, tentu saja kadang berakhir dengan kebanyakan produk. Produk yang tidak kita pakai lagi, namun terlalu sayang untuk membuang karena merasa harganya mahal, atau alasan “suatu saat nanti pasti berguna”.


Itu kasus saya, soalnya. Terakhir saya mengecek meja rias adalah sewaktu saya akan pindah ke tempat tinggal baru, dan saya membuang beberapa produk yang sudah tidak terpakai. Produk yang masih bagus saya berikan juga pada adik kalau dia menggunakan.


Dengan mengurangi produk yang tidak perlu, kita juga mengosongkan pikiran dari kebingungan, “harus pakai yang mana?”. Lebih hemat waktu, lebih hemat tempat, dan dalam jangka panjang, lebih  hemat biaya juga.


Plus mengurangi tatapan tajam suami kalau lagi-lagi produk di atas rak kok nambah. Hehehehe.


Mengenalkan Produk Satu per Satu, Tidak Sekaligus


Setia sekali saya menjabarkan motto tahun ini: One thing at a time. (Masih awal tahun sih, jadi masih fresh). Statement ini memang bisa diaplikasikan ke mana saja.


Pada dasarnya, mengenalkan produk pada kulit memang nggak boleh sekaligus. Namun seringkali kita lupa dengan berbagai alasan: merasa bahwa akan aman-aman saja, ‘nanggung’ kalau tidak pakai satu paket sekaligus, atau takut kelupaan.


Tanpa menyadari kalau kulit bisa kaget dan efeknya bisa jadi tidak bisa kita jelaskan apa, karena mengenalkan produk sekaligus. Bisa saja efeknya baru terlihat beberapa waktu kemudian, saat kita sudah berganti produk lain, sehingga tidak bisa benar-benar menentukan siapa tersangkanya.


Karena itu, selalu ingat untuk mengenalkan produk baru satu per satu saja, dan ganti hanya bila memberikan reaksi alergi/masalah serius pada kulit. Biarkan kulit menyerap nutrisi dari produk baru sambil menyesuaikan diri. Namanya juga pedekate, butuh penyesuaian sana-sini. 😃


Evaluasi: Apakah rutinitas yang sekarang sudah cukup?


Setelah mengurangi produk, fokus pada perawatan kulit yang ada, benar-benar memperhatikan kebutuhan kulit, tetap harus dicek kembali setiap enam bulan sampai satu tahun sekali.


Atau ketika ada perubahan cuaca yang ekstrem, yang biasanya memberi pengaruh signifikan pada kondisi kulit.Seperti sekarang misalnya, saat sering hujan berangin yang membuat kulit saya kekeringan--saya sepertinya perlu pelembap yang lebih kaya.


Cek kembali produk-produk yang dipakai. Apakah rutinitas yang sekarang sudah oke, atau perlu diganti? Ada yang perlu ditambah atau malah dikurangi lagi?

wit and delight

Cintai Wajah, Kulit, dan Tubuh Secara Keseluruhan


Nenek saya termasuk orang yang berkomentar “Dulu Yangti (sebutannya) pakai krim Kelly saja cukup, sudah mulus kok… nggak usah banyak-banyak produk, sampai mahal-mahal.”


Hehehe, zaman ini memang berbeda. Kita memang nggak bisa ekstrem mengurangi sampai cuma pakai krim satu buah, karena kondisi udara pun sudah tidak seperti dulu..


Makanan yang ada, cuaca, serta perkembangan teknologi juga membuat kita tidak bisa juga membiarkan kulit begitu saja. Mungkin efeknya belum kita rasakan sekarang, tapi akan terasa sekali saat sudah berumur nanti.


Tentu saja, ada situasi yang memang tak bisa dibetulkan hanya dengan skincare. Skincare bukan hanya masalah produk yang diaplikasikan pada kulit, namun juga perawatan dari dalam.


Ada pola makan yang perlu diperbaiki, kebutuhan minum yang harus tercukupi, serta kecukupan tidur dan manajemen stres. Semuanya berpengaruh pada kesehatan kulit, dan tentu saja, tubuh.


Ketika sudah sampai pada kondisi yang memang tidak bisa ditanggulangi sendiri, jangan ragu untuk menghubungi yang ahli. Karena ada situasi yang memang bukan untuk ditangani oleh produk skincare retail saja, tapi juga Dokter ahli.


Terlepas dari semua itu, kalaupun segala cara sudah dilakukan tapi kulit tidak juga #glowing2021, mungkin saatnya menurunkan ekspektasi. Mengharapkan hasil cepat dan sempurna sudah pasti tidak bisa.


Karena yang paling penting adalah kita sudah melakukan yang terbaik untuk kulit serta diri sendiri--merawat semampu kita dan mencintai kesempurnaannya yang tidak sempurna.


Well, time to re-evaluate my skincare routine this year….


Selamat glowing,
Mega

22 komentar

  1. Kak Mega benar banget 😭 anak zaman now masih belasan tahun tapi udah khatam skincare dan pakai produknya dari brand-brand mahal pula 😂 while me saat seumur mereka, muka kucel bin kumel karena nggak ngerti skincare 😂 jadi kalau lihat foto zaman dulu, bikin geleng-geleng kepala dan ingin membakar fotonya wkwkwk

    Terus pernah ada di fase coba ini itu sampai pakai skincare berlayer-layer tapi nggak sampai 10 step sih 🙈. Lama-lama aku sadar juga, aku males ngelakuin step sebanyak itu dan karena males malah jadi nggak kepakai semua, juga efek sering gonta-ganti produk pasti nggak baik untuk kulit nantinya. Jadi semenjak 2 tahun lalu, aku taubat deh 😂 dan menyadari bahwa yang terpenting di umurku saat ini adalah pelembap sama sunscreen (yg kadang masih suka males pakai #plakk), jadi sekarang skincare aku cuma itu aja dan nggak coba-coba skincare lain hahaha. Dompetku jadi aman banget karena hal ini hiyaaa ðŸĪĢ dan hasilnya lainnya jadi lebih rajin pakai skincare dan jadwal bolongnya lebih dikit dibanding dulu saat berlayer-layer 😂.

    BalasHapus
    Balasan
    1. padahal dulu ku inget lho udah jadi bagian orang yang dandan... punya lipgloss segala macem. tapi kalah jauhhh lah dibanding jaman sekarang. gapapa deh foto jaman dulunya aku simpen supaya sebagai kenang-kenangan kalau aku yang dulu bukanlah yang sekarang ðŸĪĢðŸĪĢ

      Hahaha, mungkin kita termasuk yang kena seleksi alam kali ya li... dulu pas hype beauty blog kan merasa harus sama kayak gitu supaya sempurna, terus nggak bisa bertahan. yang bertahan itulah yang sekarang masih tekun ber-10 layer ðŸĪĢðŸĪĢ

      pada akhirnya, konsistensi yang menghasilkan yaa. pakai produk mahal-mahal percuma aja kalau nggak disiplin....

      Hapus
  2. Mba Megaaa, aduh rasanya pengen high ten deh sama Mba tentang tulisan ini ðŸ’Ŋ

    Sejak awal tahu tentang pentingnya skincare, aku memang nggak ingin yang muluk-muluk. Yang penting basic-nya aja: double cleansing at night, pelembab, sunscreen di pagi hari dan sesekali pakai sheet mask. Step yang begini aja dulu aku masih suka bolong-bolong, gimana jabanin 10 step itu yak ðŸĪĢ

    Terus masalah produk pun aku juga udah menegaskan diri sendiri untuk cari yang gampang ditemukan aja alias produk drug store aja deh. Syukurnya sampai sekarang aku cocok-cocok aja dengan produk drug store atau yang bisa ditemukan di supermarket. Ini aja sekarang lagi galau nyari eyecream baru karena yang sekarang nggak terlalu efektif hahaha 😂

    Maacihhh sharing-nya, Mba Mega! Semoga kita semakin rajin apply skincare biar kulit glowing selaluuu macam Mbak Song Hye Kyo ðŸĪŠ

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayok high hundred ðŸ’Ŋ

      hahahah kalo akuu emang pernah terjebak di dalam banyaknya produk buat coba-coba mba... awalnya ya ngasih justifikasi, toh belinya cuma sample size, tapi kalau banyak kan ngabisin duit juga. Dan di luar ngabisin duit, ya jelek ke kulit kalo gonta-ganti muluk.

      Kalau aku ngandelinnya malah toko online. Soalnya anaknya kan mageran #eh jadi mikir aja yang gampang ditemukan di toko online langganan. Soalnya pengalaman beli yang ada di drugstore pun, ujungnya beli online-online lagi.

      Kabar-kabarin ya mbak Jane kalau udah nemu eyecream yang bagus! Soalnya aku juga lagi nyari hahaha... sekarang mataku belom diapa-apain nih, harusnya udah nemu tapi belum aja :<<

      Nggak pengen glowing kayak hye kyo siih yaaa, asal ga ada jeriwit aja udah cukup kita mah ðŸĪĢ eh ato sepuluh persen cantiknya hye kyo deh... (NGELUNJAK)

      Hapus
  3. Akuuu juga kak, tapi hampir setahun ini udah stop gonta ganti skincare. Kebetulan wajahku berjerawat, jadi sering banget Gonta ganti skincare karena ngerasa skincare yg dipake ga terlalu ngefek. Mulai dari yang murah, sampe mahal (menurutku) udah dicobain. Akhirnya sekarang memilih bertahan karena dari skincare yang kucoba selama ini, ini yang paling ngefek. Skrg sedikit punya pikiran, kalo ga bener2 sultan yang punya banyak uang, gausah ngarep jerawat bener2 ilang gitu deh. Lagipula jerawatku jg karena hormon, tiap mau mens atau stress muncul aja gitu beberapa. Jadi yaaa solusi lainnya adalah pola hidup sehat. Sekian 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. samaaa! aku juga mukanya gampang berjerawat, dan sempat terjebak nyari produk terbaik. padahal sebenernya jangan-jangan karena kita sering nyari-nyari produk itu yang gak baik ke kulit kita jadinya dia adaptasi terus :(

      Hahahaha.... iyaa bener... kerasa banget kalau lagi stres jerawat pun sering bermunculan. jadi ya ga bisa bersandar dan bergantung sama produk luar aja. semoga kita dilindungi dari para jerawat-jerawat hormon ya ðŸĪĢ Makasih udah mampirrr, Mbak Muti!

      Hapus
  4. Mungkin ada untungnya kulitku sensitif mba :p. Karena dengan begitu aku jaraaaaaaang sekali ganti skincare :D. Aku ganti kalo merasa produknya udh ga cocok dengan usia :).

    Aku kenal skincare sejak akhir SMP, mau Deket smu. Mama yg maksa untuk mulai pake. Di mulai dari facial cleanser dan moisturizer. Itu aja. Yg ptg wajah lembab dan bersih. Bisa marah mama kalo aku berani tidur tanpa bersihin wajah hahahaha. Dulu mungkin kesel, tapi skr, aku ga bisa tidur kalo wajah belum bersih dan dipakein skincare :D. Rasanya aneh dan ga enak. Secapek apapun, semalam apapun aku pulang ke rumah, bersihin wajah dan apply skincare wajib.

    Aku ga ngerasain itu beban, Krn memang terbiasa. Dan aku mikir efeknya aja kalo ga kulakuin. Breakout parah. Drpd ngerasain itu, aku mnding ga skip yg namanya skincare :D.

    10 layer korean steps aku lakuin kok. Tapi dengan produk yg udh cocok. Aku ga suka Gonta ganti, Krn itu td. Kulitku sensi, dan bisa parah bgt kalo pake yg ga cocok. So kalo udh cocok, itu aja, ga usah coba ganti2. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak kayak adik sayaaa... karena sensitif dia juga nggak bisa pakai macem-macem. Terus saya sering dimarahin deh karena penasaran coba-coba.

      Dulu saya kira kulit saya sensitif, ternyata nggak juga. penyebab breakout itu semua karena nggak sabaran :(

      beruntung ya mbak, diingatkan sama mama sejak dulu jadi terbiasa. soalnya kalau nggak dibiasakan, pasti mager banget apalagi kalau lagi kecapean, adaaa aja alasannya 😅😅 giliran jerawat, langsung kesel sendiri...

      Hapus
  5. Suka sama post iniiii, daginggg bingits 😍

    By the way, saya dari dulu pakainya skincare itu-itu saja, nggak hobi coba-coba. Karena sudah cocok mungkin ya sama brand yang saya gunakan. Jadi takut break up kalau 'pindah haluan' ðŸĪĢ

    Plus saya ingat kata kenalan saya yang asli Korea dengan wajah glowing, dia bilang, satu yang akan dia ajarkan pada anak-anak dia itu adalah betapa pentingnya moisturizer setelah cleaning, karena itu pula yang diajarkan kebanyakan orang tua di Korea. Mungkin karena udara di sana yang kering, tapi ternyata penggunaan moisturizer sedari kecil membuat kulit mereka bagus dan clingggg 😆

    Hehehehe, oh dan saya setuju sama mba Mega, menurut saya sudah sebaiknya kita lebih mindful dalam penggunaan skincare kita, it's okay coba, tapi secara berkala, jangan sampai terjadi penumpukan 😍 Eh tapi ini akan lain cerita jika jobnya related to skincare, mau nggak mau harus coba-coba 😁💕

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku butuh waktu lama sampai bisa yakin kalau satu merek cocok sama aku. Tapi kalau dulu memang lebih banyak penasaran sih. Sekarang udah kapok. Kasian kulitnyaa 😭😭

      Dan emang yaaa... 10-layer skincare itu emang tujuannya untuk negara macam Korea yang kering. Kalau di Indonesia keknya rumit en ribhet yeee. tapi untuk essence/toner, merek korea emang jago betul dah... melembapkannya nggak kaleng-kaleng.

      Mbak Eno, boleh share juga dongs skincare yang sekarang dipakai. Atauuuu saya nggak lihat karena pas post zaman belum blogwalking dengan rajin? ðŸĪĢ

      Nah itu dia sebabnya saya memutuskan beauty blogger bukan jalan ninjaku. pasti harus banyak review produk, banyak coba-coba.. selain gak kuat di muka, gak kuat juga di dompet ðŸĪĢ terima kasih sudah mampir yo, Mbak 😆

      Hapus
  6. Halo, mba Mega! Pertama kali komen di sini, nih... Salam kenal, ya... :)

    Saya pribadi bukan fan 10-layer skincare. IMO yang penting untuk kulit itu cleansing, exfoliating, moisturizing, dan protection dari UV maupun radikal bebas. Tapi, selain cleansing yang tiga lagi sering diskip juga sih. Hahaha.

    Untuk mindfulness dalam ber-skincare, sejujurnya pernah juga membuang skincare yang sudah kadaluarsa. Terutama buat yang bikin breakout. Pas ngebuang tu lumayan berasa nyesek. Untungnya jaraaang banget. Masih bisa dihitung dengan jari lah.. Kalau pas cocok, meskipun efeknya ga signifikan, sebisa mungkin saya pakai sampai tetes terakhir, baru eksplor yang lain dan kebetulan kayaknya kulit saya tipe yang resisten kalau pakai produk yang sama lebih dari dua botol berturut2. Jadi cenderung bruntusan. Makanya biasanya pasti ganti setelah repurchase sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wihiii, terima kasih sudah berkunjung mbak Hicha!

      Nah iya betul. Ketika saya berusaha sempurna, yang ada malah nggak tercapai. Begitu dikurangi sampai minimal, ternyata malah lebih bagus ke kulit.

      Oh, bisa bruntusan malah ya karena resisten? saya pun masih dalam rangka mencari yang cocok. sejauh ini sudah ada beberapa produk repurchase dan ada yang sudah habis tiga botol. Kalau maksimal dua botol, sebenarnya repot juga ya mbak. Apalagi sudah merasa cocok, eh abis itu berasa diputusin :( (lha kok curhat)

      Hapus
  7. Sejujurnyaa aku ga hafal tahapan penggunaan skincare. Bahkan aku termasuk yang paling maleeees bangeeet pake ini dan itu. Kayanya produk yg aku punya cuma sabun cuci muka, aloe vera, sama sunblock. Itu pun sunblock dipake kalo lagi inget ajaa.

    Aku punya sheet mask tapi kok maleeeess bangeeet pakenyaa. Tapi punya harapan muka tetap glowing. Laah gimanaa dah kalo ga dirawat.

    Nah memasuki usia akhir 20an mulai peduli apalagi merasa kulit makin kusam khususnya muka. Jadi lagi coba satu serum, itu pun di pake ga tiap hari. Kebiasaan pake aloe vera aja siih.

    Semoga makin kesini makin rajin biar muka tetap glowing dan awet muda 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. pakai sunblock jangan lupa, karena itu terpenting! 😁👌

      aku juga kemarin sempet maleeees banget mbak. kayaknya karena mikir kondisi kulit gini-gini aja. abis itu gampang jerawatan bingung kenapa, padahal ya karena kemarin2 sempat nggak rajin. rutinitas sedikit efeknya bisa banyak banget.

      semoga meskipun kulit kita menua, tampilannya tetap prima ya mbak. semua dimulai dariii sekaranggg hohoho...

      Hapus
  8. Serius, Mbak Meg, aku 100% setuju dengan tulisannya Mbak Mega kali ini. Kulit kita gak memandang produk dan brand apa yang kita pakai, dia cuma butuh dirawat.

    Di jaman yang serba melek tentang skincare saat ini, kesalahan banyak orang adalah terlalu mengikuti tren. Terlalu mengejar produk apa yang baru launching belakangan ini, produk apa yang lagi viral sekarang. Padahal beneran, deh, kebiasaan ini sebenarnya gak terlalu penting buat kulit kita.😂

    Cari produk yang bener-bener cocok di kulit kita itu gak gampang. Jadi kalau udah nemu produk yang cocok, sebaiknya gak usah gonta-ganti lagi. Kecuali kalau memang benar-benar perlu —contohnya kalau ujug-ujug kulit mulai bermasalah atau usia kita yang sudah mulai matang—, itulah saatnya kita ganti skincare sesuai dengan masalah kulit kita.

    Aku sendiri sering coba banyak produk, Mbak Meg. Bukan semata-mata pengen atau buang-buang uang, melainkan emang nasib jadi reviewer 🙈. Tapi sebenarnya, aku selalu repurchase produk yang bener-bener cocok di aku dan anti beli produk baru kalau produk yang aku punya belum nyaris habis. 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Nggak mandang brand, dia cuma butuh dirawat" huhuuuu.... tertampol sekali aku Mbak Roem. Sekarang sebisa mungkin aku juga nggak nyoba yang terlalu mahal buat kantongku hahaha. Selain tahu diri, menyayangi kulit supaya dia nggak rewel minta yang mahal.

      Dulu masih semangat kali yaa, jadi sekarang sudah mau satu merek aja nggak ganti-ganti. Kalau ada masalah karena perubahan kulit tuh, yang ada aku kelimpungan karena itu berarti aku harus cari lagi.

      Nah, itu juga sih yang bikin aku nggak mengarahkan konten blog ini ke beauty. Untungnya, memang itu hanya keinginan sesaat aja sih. Mbak Roem pasti perlu lebih banyak siasat ya, karena memang tujuannya sebagai beauty reviewer 😂

      Tapi tanpa beauty reviewer, kita yang nggak doyan gonta-ganti ini yang susah, Mbak. kami perlu patokan juga sebelum ganti skincare hi hihi... keep reviewing! ðŸĪĢ

      Hapus
  9. Pengen melipir ke sudut lemari deh baca ini hahaha.

    Saya gonta ganti merk skincare.
    Saking merasa sayang kalau buang skincare hahaha.

    Jadinya, kalau dapat gratisan, selama itu aman, pasti saya pakai sampai habis.
    Urutannya juga kadang banyak, biar skincarenya cepat abis (kalau lagi banyak).
    Tapi syukurlah kulit saya memang agak membadak sih ya, jadi selalu baik-baik saja even ganti-ganti merk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahhaha... kalau menurut saya, ketika kita diberikan skincare itu, malah bagus kalau kita pakai sampai habis. problemnya di saya, itu skincare banyak kebeli karena lapar mata. makanyaaa jadi jelek kan mba :'D

      Justru malah bagus ketika mbak rey dapat banyak gratisan, dan dipakai sampai habis karena cocok. itu namanya rezeki. soalnya kalau kulit saya, ganti merek bisa jadi nightmare... sekarang saya sudah kapok, hiks.

      Hapus
  10. hehehe konsistensi dan supaya tahan terhadap produk baru ini yang agak susah
    dulu tuh rame ramenya some by mi, ehhh aku baca baca review sana sini, ternyata tetep kebeli juga dan nggak rutin juga makenya. muncul bruntusan, stop sementara.
    sebenernya aku lebih sreg dengan dokter kulit ketika masalah jerawat waktu kuliah dulu agak parah, dan sampe pas kerja pun, lebih cocok ke dokter kulit langganan waktu kuliah.Sayangnya udah beda kota, dokter di malang, aku nya di jember. berat ongkos juga di transport hahaha

    untuk produk skin care-ran, kayaknya pas kerja aja, itupun baru baru setaun dua tahun ini, untuk beli produk yang macem macem. Hanya brand tertentu aja yang rutin aku beli, karena merasa cocok

    dulu waktu kuliah pun, aku nggak kenal kenal banget sama skin care-ran, maklum duit cekak juga mbak, belum bisanyari duit sendiri juga waktu itu. jadi kuliah, palingan bedak, sunscreen, dan lipgloss, malah ga pernah pake lipstik

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkkwwk iya mbak. aku juga dulu gampang banget kemakan review. kayaknya ini bagus, itu juga bagus. kalau semuanya bagus, mau konsisten pake yang mana?

      untuk dokter kulit sendiri aku memang menghindar, karena dari dulu selalu disugesti sekali ke dokter nggak bisa lepas. makanya aku memilih pakai skincare biasa aja, dan sejauh ini untungnya aman hahaha... ketika breakout aja sabar-sabarin, ada dua-tiga tahun saya bermasalah banget sama jerawat.

      wkwkwk, saya sendiri juga baru kenal skincare dengan teliti setelah kerja. kalau kuliah, terbatas dompet :')

      Hapus
  11. Hi Mba Mega, salam kenal :)
    Setuju banget sama Mbak Mega, in terms of skincare, less is more. Dan juga kita sebagai consumer harus selektif membeli product dari company yg ethical--responsible atas clean chain supply, against animal testing, engga memperkerjakan underpaid labor juga.
    tapii gara-gara youtuber Hyram yg bilang kalo teknologi korean beauty product itu lebih advance dari US, aku jadi ngulik korean skin care dan tertarik buat beli :3
    Oh ya, ditunggu blogpost tentang skin care routinenya Mba Mega 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mbak Zi! Terima kasih sudah mampir. Setujuuu... Ethical production akan jadi sasaran saya berikutnya, karena jujur saya belum sampai sini. Saya pun masih suka memesan dari toko luar negeri karena mengejar harga, yang pastinya bikin carbon trace lebih banyak. Cuma, belum berani eksplorasi lebih banyak mengingat kapok breakout. Jadi sekarang untuk produk yang sudah cocok, saya maksimalkan dulu agar kulit saya gak aneh aneh lagi... 😂

      Siaaap, tunggu postingan skincare routinenya yaaa 😁

      Hapus

Instagram

Gentle Sunday. Theme by STS.