Weekend Book Club: American Royals Series

Serial yang cocok dibaca oleh penggemar drama romansa, apalagi opera sabun. It’s fun!



Bagaimana jadinya kalau Amerika bukanlah negara serikat seperti sekarang, tetapi sebuah monarki dengan raja sebagai pemimpinnya? Akankah sejarah menjadi berbeda? Itulah latar belakang dari seri buku ini.

Hal itu sudah pasti, tetapi bukan hal-hal sejarah yang berat yang dibahas di American Royals. Seperti drama Korea, perubahan sejarah ini menjadi latar belakang untuk drama dan intrik dari remaja-remaja yang berada di lingkaran monarki Amerika.

Nonetheless, seri buku ini berhasil bikin saya baca terus sampai selesai. Sebuah pencapaian mengingat saya suka malas di tengah jalan.

Saya membeli buku ini di Kindle store karena lagi ada book deal. Tiga-empat dolar dapat dua buku, mengapa tidak?

Ternyata, pancingan dari Amazon berhasil, karena saya meneruskan membeli dua buku sisanya. Ya, ada empat buku dari seri yang ditulis oleh Katharine McGee ini. Rilisan Indonesianya juga sudah terbit, jadi kalau penasaran dengan versi Bahasa Indonesianya, bisa beli di sini.

Buku pertamanya berjudul American Royals, dan tiga buku lanjutannya masing-masing berjudul Majesty, Rivals, dan Reign. Selain itu ada satu novela prekuel berjudul Inheritance. Seri ini baru saja tamat 2023 kemarin. Beruntung sekali saya baca pas serinya udah tamat, jadi nggak penasaran, hahaha.

Plot

Di latar belakang alternatif ini, dunia berisi banyak kerajaan dengan berbagai macam pemimpin. Selain Inggris, Perancis, Austria, dan banyak negara lainnya, adalah negara monarki absolut dengan raja atau ratu sebagai pemimpinnya. Tidak terkecuali dengan Amerika, dan calon pemimpin yang berikutnya adalah Putri Beatrice.

Putri Beatrice adalah calon orang nomor satu di Amerika, tapi peran itu tidaklah semenyenangkan yang dipikirkan orang. Orangtuanya meminta dia untuk menikah di usia muda (yup, plot yang sangat familier, kan?), dan dia sama sekali nggak pernah jatuh cinta. Lebih parah, ketika akhirnya dia jatuh cinta, dia jatuh cinta pada orang yang tidak seharusnya.

Tidak hanya Beatrice, orang-orang di sekitar Beatrice juga memiliki masalahnya masing-masing. Samantha, adik perempuannya, terjepit di peran sebagai anak tengah yang harus menjaga sikap namun tak akan diperhitungkan sebagai pewaris karena ada si bungsu, Jefferson. Sementara itu, Jefferson terlibat hubungan aneh dengan Nina, teman masa kecilnya, dan Daphne, mantan pacarnya yang sepertinya belum rela putus.

Buku ini berputar dengan empat tokoh sebagai sentral perspektifnya: dua orang dari keluarga kerajaan, dan dua orang yang ada di luar, tapi terikat dengan keluarga tersebut. Sesuai dengan settingnya yang sangat grand, tentu banyak banget drama yang muncul, mulai dari romansa dan juga (sedikit) intrik kekuasaan.

Dengan ketebalan yang lumayan, empat buku cukup untuk mengeksplorasi karakter-karakter tersebut, meskipun kayaknya masih bisa dikembangkan lebih baik. Awal baca buku pertama saya nggak terlalu tertarik, tapi tanpa sadar lama-lama saya jadi suka beberapa karakter yang ada di buku, dan jadi penasaran nasib apa yang menanti mereka berikutnya.



Hal yang saya suka dari seri ini

Plot yang Terkoneksi

Perspektif bukunya berganti-ganti antara empat karakter: Beatrice, Samantha, Nina, dan Daphne. Biasanya buku seperti ini cukup bikin lelah, tapi karena plotnya terus maju, jadinya tahu-tahu bukunya beres. Memang sih ada bagian yang bikin saya bosan: Kalau sampai di tokoh yang lagi nggak saya pedulikan arc-nya (haha), bacanya jadi lebih cepat.

Drama, Drama, dan Drama

Bahan bakar utama buku ini adalah drama! Pokoknya segala klise dari plot khas dramarama ada di sini. Mulai dari ada yang sakit, ada yang koma, perjodohan, pura-pura pacaran, cinta segitiga, cinta terlarang, lengkaplah.

Pas awal jujur saya ngerasa cringe, apalagi karena penyampaikan straight dan gak neko-neko. Ternyata, hal ini juga yang bikin saya jadi enjoy, karena ada familiarity. Kita tahu biasanya cerita begini arahnya ke mana, tapi pengarang juga tetap memberikan bumbu sehingga kita penasaran dengan akhir ceritanya.

Pertumbuhan Karakter

Yup! Dengan empat perspektif dan plot yang penuh drama, saya nggak nyangka bisa jatuh cinta dengan lebih dari satu karakter (utama dan pendukung). Buku pertama yang alurnya cukup lambat bikin saya kecapean, jujur.

Untungnya, masuk buku kedua, pace-nya membaik dan bikin saya penasaran dengan apa keputusan yang akan diambil oleh tokoh-tokohnya. Mereka belajar dari hal yang dilalui, atau melakukan kebodohan lainnya, but that’s what makes them human (despite the fact ceritanya super outrageous).

Hal yang saya kurang suka dari seri ini

Karakter Dangkal

Plot yang luarbiasa drama kayaknya nggak sebanding dengan pendalaman karakternya. Itu juga sih yang bikin saya kecapean baca buku pertama, karena kepala saya terus berharap dan berekspektasi lebih. Setelah saya me”ringan”kan isi kepala—alias berpikir buku ini adalah opera sabun *but in text—*saya bisa lebih menikmati.

Still, bagusnya sih bisa lebih baik lagi yaak. Butuh buku kedua untuk bisa peduli pada karakter, karena di buku pertama kurang, padahal bukunya sudah tebal. Sedangkan yang bikin kita semangat membalik halaman buku, ‘kan, salah satunya adalah karena kita memedulikan karakter tersebut.

Latar Belakang Pajangan

Dengan latar belakang sejarah yang berubah, saya sih berharap lebih banyak yang dieksplor dari aspek ini. Tentang aspek pemerintahan, hubungan antar negara, dan kultur masyarakat. Kultur kerajaan Amerika ini diambil dalam bentuk pastiche dari kerajaan yang ada di Eropa, namely Inggris dan dan Perancis. Sisanya ya tidak ada keunikan lain.

Karena plot utama buku ini adalah romansa, kadang latar belakang hanya terasa sebagai “tempelan”: kesulitan hidup yang mereka alami bisa dialami oleh remaja biasa di tempat lain, cuma yang ini duitnya lebih banyak dan diikuti wartawan. Sayang sih, tetapi hal baiknya, buku ini cenderung lurus dan mudah untuk dicerna tanpa berpikir.

No-brainer Research

Ada yang bilang kalau buku ini adalah tiruan-lebih-murah dari serial TV The Royals. Mulai dari premisnya yang sama sampai struktur tokohnya pun sama. Saya nggak pernah nonton, jadi masih bisa baca dengan curiosity. Selain itu, marketing dan publisitas buku ini kayaknya juga agak mirip dengan Crazy Rich Asians (covernya juga mirip, yaaa). Ceritanya beda sih, tapi mirip, alias konflik dan intrik high society. Kalau hal itu juga bukan masalah, buku ini tetap bisa dinikmati.

Satu hal yang cukup membuat saya bete adalah konsistensi pengarangnya melakukan kesalahan dalam menuliskan nama Asia. Ada nama Jepang, Cina, dan Korea—dan semuanya salah penulisan secara budaya. Ada karakter Jepang yang terdiri dari dua given names, ada beberapa karakter Cina dengan nama yang mirip-mirip (kayak nggak ada nama lain aja), dan nama Korea yang sebenarnya tidak ada.

Sangat-sangat disayangkan, padahal kalau mau tahu struktur nama yang benar, pengarangnya tinggal cari di Google!

Final Verdict

Short and simple: this series is a guilty pleasure. Kalau kamu suka plot ala sinetron yang dipadukan dengan keseruan chicklit/teenlit, maka inilah buku yang cocok. (me!). Waktu baca buku ini, nggak usah mikir terlalu jauh dan mikir kenapa begini kenapa begitu. Kalau soal bagus, masih banyak buku yang lebih bagus, tapi buku ini seru buat dibaca pas waktu luang.

This book is for fun, dan ketika dibaca dengan perspektif tersebut, ceritanya pun akan terasa lebih menyenangkan untuk dibaca. Buat yang nggak masalah dengan spoiler, saya punya notes lengkap pengalaman baca buku ini di library.

Salam,

Mega

if you love my writings, consider sign-up for my email newsletter to get monthly recap and more. πŸ’›

Komentar

  1. WAITTT, kok notes di librarynya Kak Mega seru banget? Ini macam reading thread kalau di Twitter πŸ˜†. notesnya diupdate setiap habis baca kah?

    Pertama aku lihat covernya juga aku menangkap suasana dari crazy rich asians xD mungkin pembuat covernya sama kah? aku pikir begitu wkwk. dari segi cerita, ini ibarat nonton FTV yang udah tahu endingnya bakal gimana ya, Kak wkwk but sometimes kita memang butuh baca-bacaan yang seperti ini karena kadang bacaan seperti ini yang bikin keluar dari reading slump πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAHAHHA... iya Li. Aku gak main booktwt tapi punya book club sama temen2 di Notion gitu. Kita saling share apa yang kita baca dan semua boleh nulis komentar suka-suka. Jadinya aku rajin nulis komentar di page notion karena temen-temenku juga melakukan hal yang sama. Setelah selesai, baru dipindah ke websiteku sendiri buat arsip πŸ˜‚

      hebatnya author ini, meskipun plotnya predictable, dia tetep bisa bikin plot twist yang masih ga predictable meskipun feelsnya predictable (???) right, abis baca ini rasanya seger karena otak gak mikir kebanyakan HA HA HA... sekarang aku lagi baca nonfiction dan lamaaa banget karena sambil mikir. semoga cepet beres dah itu buku πŸ₯²

      Hapus
    2. kok seru banget!! aku nggak kepikiran bikin book club di Notion πŸ˜†. tiap bulan ada baca barengan judul yang sama gitu kah Kak?

      HAHA emang kalau abis baca buku tipe ini terus baca non-fiksi tuh moodnya langsung jeblok banget Kak 🀣. gimana gimanaa? bacaan non-fiksinya udah selesai kah? wkwk

      Hapus
    3. kita nggak barengan baca buku yang sama, malah suka-suka aja. selain buku, ada juga film dan series, pokoknya melaporkan aja apa yang kita konsumsi. tapi ada juga yang janjian nonton bareng atau baca bareng. karena berasa ada teman, jadinya termotivasi juga untuk baca.

      akhirnya selesai juga ini nonfiksi, sekarang balik fiksi lagi 🀣🀣

      Hapus

Posting Komentar