Weeknotes 011 - hidup (as per usual)
Minggu ini tidak keluar kemana-mana, karena suami saya masih sibuk dengan pelatihannya sebagai Ahli K3 Umum. Pelatihan yang bikin kami ngakak karena training kit-nya datang dengan lencana K3 a la polisi. Pelatihan yang bikin hari Sabtunya habis di depan layar untuk kerja kelompok dan bikin laporan dan persiapan ujian. Semoga ujiannya lancar ya, Abang. π«Άπ»
Proyek yang sedang dilakukan banyak bergantung pada orang lain, tidak bisa diselesaikan sendiri. Jadinya saya cenderung melupakan segalanya dan kebingungan dengan segalanya. Time feels warped; tahu-tahu sudah waktunya rapat akhir tahun. Kami (satu tim) menghabiskan hari Minggu dengan finalisasi presentasi bareng-bareng. Itu juga yang bikin saya nggak nulis apa-apa.
Hal yang harus diingat:
- Peresmian event B.
- Peresmian di kota C. -> cek ke S.
- Follow up progres kalendarium.
- Kartu.
Lots of eating out
Meskipun tidak keluar di akhir minggu, berkesempatan makan di luar tiga kali, sesuatu yang langka dan saya syukuri benar-benar π€²π»
Di Karnivor dengan suami, karena kebetulan bersebelahan dengan lab tempat Medical Check-Up kemarin, dan suami saya mengambil hasil MCU-nya pas di waktu makan malam. Plus dia merayakan kolesterol dan asam uratnya yang bagus, jadi mau makan daging.
Di Justus Steakhouse, karena bos saya janji mau nraktir dan beliau benar-benar melaksanakan janjinya. Horee. Karena sudah direncanakan, awalnya tentu saja mau makan steak daging, tapi mengingat hari sebelumnya suami ngajak makan di Karnivor (hal yang tidak terencana), jadinya saya ubah pesanan ke ayam. Masih enak! Jadi pengen ngajak Abang makan di sini lagi.
Di Gedong55 dengan suami, sebuah restoran sunda baru di Cimahi. Kayaknya belum ada setahun. Sebenarnya penasaran karena lihat review bagus tentang restorannya. Pas hujan lapar jadi sekalian belok ke sana, dan ternyata beneran enak. Review soon kali ya. (pasti masih lama sih)
Watching: Typhoon Family

Seminggu terakhir nonton drama ini bersama Abang. Topiknya tentang perusahaan dagang dan ekspor-impor dengan latar tahun 1997, ketika Korea Selatan (dan banyak negara lainnya, termasuk Indonesia) mengalami krisis ekonomi.
Latar perusahaannya bukan sesuatu yang seksi, namun sangat relatable karena Ayah saya dulu juga bergelut di usaha ekspor-impor. In some ways, it felt relatable more than it seems. Drama ini kayaknya cocok buat orang berusia 30-an; orang-orang yang bekerja demi keluarga, demi bertahan sehari lagi.
Meskipun plot dramanya bikin stres karena kok susah terus, saya menikmati nonton drama ini. Halangan yang muncul lebih banyak karena keterbatasan teknologi saat itu: nggak ada HP, nggak bisa koneksi internet dengan mudah, nggak ada google maps dan google translate. Di balik setting masa lalu, drama ini memberikan kisah tentang found family, struggle and triumph, sesuatu yang akan abadi terlepas dari kemajuan teknologi.
Pas baca deskripnya sebagai "period drama", saya sempat protes ke suami saya. Kok period drama sih, berasa jadul banget?
Setelah menghitung, 1997 ternyata hampir 30 tahun yang lalu. Maap, ternyata saya cuma tua aja.
Something I want to do: Decluttering Vanity

Saya nggak punya meja rias. Adanya adalah bagian atas lemari yang dimanfaatkan untuk segala macam fungsi: Meja rias, landing space, dan nakas (bedside table). Tambahan lagi, penggunanya nggak cuma saya, tapi juga suami saya, jadi gampang sekali berantakan.
Setelah merenung, memang space ini harus dibereskan; bukan sekadar dirapikan, tapi benar-benar declutter total dan mungkin menambahkan beberapa barang untuk mengatasi berantakannya setiap hari. Akan saya lakukan pelan-pelan, sekarang dimulai dari cari inspirasi dulu.
Yups, demikian catatan mingguan ini. Seperti biasa, sekarang kayaknya nggak penting banget isi tulisannya, tapi saya harap bisa melihat lagi kenang-kenangan ini sambil tersenyum.
sampai minggu depan,
Mega