Weeknotes 009 - berlatih adaptif

Halo, minggu ini tidak terlalu banyak yang terjadi. Pertama, kantor diisi dengan meeting untuk agenda besar (lagi) di bulan Desember. Besar karena ada VVIP, tapi tidak terlalu intricate sih, jadi bisa diatur.
Utamanya, minggu ini saya sakit. Kayaknya pulang konser kemarin daya tahan tubuh menurun karena kehujanan, dan saya kena radang tenggorokan. Untungnya demamnya ringan sehingga saya tidak terlalu kepayahan. Sekarang batuknya aja yang masih mengganggu, karena cukup parah saat dini hari.
Sakit berarti saya tidak masuk kantor dua hari. Selama dua hari itu juga masih ada pekerjaan yang datang, dan saya mengerjakan yang sifatnya ringan-ringan saja. Begitu masuk kantor, kegiatan survey lapangan sudah menunggu.
Survey kali ini ke Cirebon. Pengennya jalan-jalan, tapi namanya juga kerja. Kami survey sampai sore. Cirebon masih panas meskipun turun hujan besar. Untungnya kami masih sempat makan empal gentong di sore hari. Apa artinya ke Cirebon kalau nggak makan empal gentong? Hehe.
Dalam perjalanan pulang, tol Cisumdawu diselimuti kabut. Jarak pandang hanya beberapa meter saja sehingga kendaraan mengandalkan lampu hazard. Cukup seram dan magis.

Hari ini kondisi saya sudah jauh membaik, tapi ada satu hal yang bikin saya gak nyaman. I know the roots, but i still have to survive. Masalahnya masih sama: floating, kayak kerantai, dan merasa apa yang saya lakukan nggak ada artinya. Merasa incapable, in so many ways.
In this economy, resign is not an option. Tentu saja itu pilihan gak masuk akal. I guess I'm just got burned out. Soal perbaikannya saya sedang proaktif mengusahakan. Mungkin tidak sesuai dengan eskpektasi orang lain, tapi saya berusaha menyayangi diri sendiri lebih dulu. Bukan berarti meninggalkan pekerjaan lho... just set firmer boundaries for my sanity.
I'm sorry for ending this with such a gloomy note. I'm glad that I'm writing this. Semoga tahun depan saya masih aktif menulis weeknotes, jadi bisa melihat tahun lalu pikiran saya seperti ini, dan semoga tahun depan pikiran saya sudah jauh jauh lebih baik.
Allah memberikan suatu kondisi pasti bukan tanpa alasan. Sekarang mungkin saya masih harus mencari jawabannya. Empat tahun lalu saya merasakan hal yang sama, dan Allah memberikan saya tempat yang terbaik. Sekarang? I will just keep treading the water while finding the answer.
Sampai minggu depan,
Mega