Gentle Sunday

Menyeleksi Musik Kembali

IMG_0064

Saat saya menginjak usia 11 tahun, tepatnya kelas 6 SD, Ibu saya memberikan hadiah sebuah radio kaset. Sampai sekarang saya masih ingat bentuknya. Boombox merek Aiwa berwarna abu-abu (saat itu keren) yang bisa menjadi radio, pemutar kaset, dan juga CD.

Perangkat audio itu menjadi salah satu penanda kedewasaan bagi saya, dan mungkin juga anak-anak lainnya di zaman tersebut. Bahwa kami sudah cukup dewasa untuk memiliki perangkat elektronik yang mahal. (Anak yang punya ponsel waktu itu hanya segelintir, dan langsung dianggap anak orang kaya).

Sebelum punya radio atau walkman sendiri, tentu saja saya harus menggunakan perangkat yang ada di ruang keluarga. Bergantian dengan orang tua. Atau tepatnya, menurut dengan kaset dan CD pilihan orang tua.

Saya suka dengan playlist adult contemporary 90-an Ibu saya, saya juga suka pilihan pop sunda Ayah saya, tapi saya juga tentu saja punya selera musik yang berbeda dengan mereka.

Dengan adanya radio kaset itu di kamar, saya bisa memilih kaset dan CD sendiri. Deretan album di rak meja belajar menjadi sebuah koleksi yang berharga. Baik hadiah maupun beli dari tabungan uang jajan, semuanya istimewa.

Setiap album yang saya beli harus didengarkan dengan sakral. Semua lagu didengarkan satu per satu, kalau bisa sampai hafal liriknya. Tidak ada lagu yang dilewati karena semua punya tempat masing-masing—hingga akhirnya lagu dan album tersebut menjadi perwakilan sebuah era.

Lagu Linkin Park menjadi penanda bahwa saya sudah lebih dewasa, alias berseragam putih biru. Fall Out Boy dan Good Charlotte adalah tanda selera musik saya keren dan sama dengan yang diputar di MTV, ha ha ha.

Musik, latar pendukung saat bertumbuh

Hal ini berlanjut hingga saya punya komputer sendiri di kamar. Sekali pun proses mendengar lagu berubah jadi mengunduh lagu bajakan lewat 4shared, stafaband, dan k2nblog, saya masih mendengarkan lagu dengan baik. Lagu yang diunduh adalah lagu yang benar-benar disukai: koneksi internet pada masa itu terbatas, dan saya harus menyisakan uang jajan untuk tiga jam yang mewah di warnet.

Meskipun melanggar hukum hal itu terasa normal karena semua orang juga melakukan hal yang sama. Dari mengunduh lagu saya bisa tahu berbagai lagu yang tidak ada di televisi, seperti soundtrack anime yang saya suka. Mengunduhnya tidak mudah; kadang ada iklan pop-up penipuan, kadang ada virus nyelip, kadang ada album artwork mas-mas Stafaband (ha ha).

Memang sih, mengunduh lagu masih lebih mudah daripada membeli kaset atau CD. Namun cara mendengarkannya tetap terbatas: lagu hanya bisa didengarkan dengan cara luring (offline). File lagu dimasukkan ke pemutar lagu MP3 atau ponsel, tidak perlu menggunakan internet. Bonus points kalau ponselmu adalah Sony Walkman.

Ngomong-ngomong, saya punya ponsel Walkman dua kali. Keduanya adalah ponsel paling keren yang pernah saya punya.

IMG_0061

Sebanyak apa pun file lagumu, tetap dibatasi oleh besarnya storage dan baterai. Laman web yang bisa dibuka di ponsel sangatlah sedikit dan tidak ada aplikasi chat yang bisa menghubungi kapan saja.

Mendengarkan lagu menjadi teman setia saya di angkot saat berangkat dan pulang sekolah. Memberi latar saat hujan turun dan mewarnai saat saya memikirkan kakak kelas yang ditaksir.  🤣

Ketika Ibu saya mulai bolak-balik rumah sakit untuk operasi dan kemoterapi, beliau membeli sebuah Mp3 player untuk mengisi kebosanannya. Saya menjadi asisten yang mengisi benda tersebut dengan lagu-lagu pilihannya.

Sampai sekarang, ketika mendengarkan lagu-lagu Kerispatih dan Ada Band, saya teringat Ibu, tangannya yang kurus, dan aroma rumah sakit.

Semakin banyak lagu, semakin terlupakan

Sekarang masa-masa itu telah lama berlalu. Saat Spotify masuk ke Indonesia, saya langsung menjadikannya sebagai pemutar musik utama. Tanpa sadar, unduhan lagu-lagu saya tidak lagi saya akses. Saat file-nya terhapus pun, saya tidak panik. Tenang saja, hampir semuanya ada di Spotify. Kalaupun tidak ada, saya juga bisa mengakses YouTube.

Cara mengonsumsi musik pun berubah. Kalau dulu kita tahu musik baru dari apa yang ada di radio atau televisi, sekarang algoritma bisa memberikan musik yang cocok dengan selera kita secara otomatis. Tidak perlu mencari-cari lewat majalah lama atau deep diving—lagu-lagu baru tersedia setiap hari, semua genre, seluruh negara.

Pun tidak perlu takut kehilangan file. Saya punya ribuan lagu yang diklaim favorit di daftar putar platform musik yang saya gunakan (saat ini Apple Music). Daftar putar tersebut bisa saya ekspor dengan mudah saat saya berganti platform, menggunakan software pihak ketiga.

Kini saya justru jadi jarang mendengarkan musik. Musik menjadi hal yang didengarkan sambil lewat. Kadang-kadang malah saya merasa terganggu bila mendengarkan musik; lebih sering mencari background music di YouTube atau lofi, yang sayangnya kini banyak diisi dengan musik gubahan AI.

Dari ribuan lagu favorit, saya tidak bisa mengingat semuanya. Lagi-lagi lagu yang bisa saya ingat judul dan penyanyinya hanya segelintir, kebanyakan adalah lagu yang memang terkenal atau lagu favorit saya dari masa lalu.

Pilihan musik semakin banyak, namun rasa kemelekatannya semakin sedikit. Saat memutar lagu saya tetap saja bingung karena tidak selalu ingat dengan penyanyi atau judulnya. Saya baru berpikir “oh, lagu ini….” Setelah lagunya diputar.

Memang benar rupanya, di era informasi yang cepat ini, otak terlalu sering menerima hal baru tanpa memberikan tempat untuk memikirkannya.

Kembali menjadikan musik sebagai hal yang spesial

Berangkat dari pertimbangan-pertimbangan di atas, saya memutuskan untuk memilah lagi apa yang saya dengar. Sejak akhir tahun lalu saya mencoba membeli musik lagi lewat iTunes store. 

File musik yang dibeli bisa diunduh dan disimpan secara offline. Saya masih berlangganan musik, tapi hanya untuk sementara saja sebagai fungsi discovery.

Ternyata setelah memilih untuk membeli, saya jadi kebingungan karena ragu dengan album yang hendak saya beli. Terlalu banyak album yang bisa dibeli—tepatnya, terlalu banyak yang nilainya sebenarnya biasa-biasa saja.

Saat menentukan menggunakan daftar liked song—lagu yang saya tandai sebagai favorit sambil jalan—pun saya jadi benar berpikir apakah saya memang benar-benar menyukai lagu tersebut dan ingin mendukung artisnya? Apakah saya masih akan mendengarkan lagu yang sama lima tahun lagi?

Ternyata banyak lagu dan artis yang tidak terlalu membekas. Hanya menjadi favorit sambil lewat; didengarkan selama dua minggu, lalu dilupakan.

Tidak memberi waktu untuk berpikir, tidak memberi waktu untuk menikmati, tidak memberi waktu untuk mengisi kehidupan sehari-hari saya, seperti waktu dulu.

Berdasarkan parameter itu, pilihan album saya pun berkurang drastis. Malah album yang saya miliki berbanding terbalik dengan pilihan lagu saya saat shuffle aplikasi sambil bekerja. Sebuah penyadaran: ternyata selama ini saya cenderung mendengarkan lagu hanya untuk mengisi telinga. Mengisi kepala dengan lagu saat bekerja agar bisa ada sedikit distraksi tanpa harus mengganggu konsentrasi.

Berapa Album yang akan saya miliki di akhir tahun 2026?

IMG_0062

Itulah pertanyaan akhirnya.

Saat ini hanya ada album Yura Yunita dan Christian Kuria di list download saya. Saya belum beli album lagi. Namun sebuah eksperimen baru telah dibentuk.

Langganan Apple Music saya berakhir bulan ini (Februari). Setelah itu saya tidak akan memperpanjangnya. Karena saya pakai akun YouTube premium di televisi, mungkin saya akan mendengarkan lagu dari situ, tapi tetap tidak akan dijadikan pendengar musik utama.

Saya akan mulai mengalokasikan biaya untuk membeli musik dan album yang benar-benar ingin saya miliki. Apakah akan banyak, apakah akan sedikit? Apakah saya malah akan kembali ke streaming musik sepenuhnya?

Mari kita lihat akhir tahun nanti. Sekarang ini,  cukup sekian perenungan saya 😄

Salam,
Mega


send your thoughts via email.

#2026 #Hobbies and Culture #ID #hobbies #music