Gentle Sunday

Life Experiment: Desember Tanpa Media Sosial

taylor-caruso-dupe

Setiap tahun, tepatnya bulan Desember, saya mendeaktivasi akun twitter saya, akun tempat saya mengobrol dengan sirkel teman online yang sudah saya kenal belasan tahun. Awalnya iseng, tapi ternyata jadi kebiasaan. Sekarang kayaknya sudah tahun ketiga.

Di awal tahun, salah satu keinginan saya adalah mengurangi penggunaan media sosial. Di akhir tahun, biasanya keinginan itu memudar seiring dengan pekerjaan yang memusingkan dan kebutuhan untuk distraksi dan eskapisme.

Setiap Desember, the resets began. Tahun ini saya ingin melakukannya dengan jangkauan lebih luas. Jadi, hal ini yang akan saya lakukan:

Mengapa melakukan hal ini?

  1. Bentuk komitmen. Suka nggak suka, media sosial memang bertugas membuat kita terlena tanpa sadar. Butuh keinginan dengan kesadaran penuh, dan komitmen ini adalah bentuk keinginan dengan sadar tersebut.

  2. Mengurangi distraksi. Ada banyak hal yang ingin saya lakukan lebih banyak, tapi waktu yang saya miliki sering banget bocor ke media sosial. Saya bisa pakai berbagai alasan untuk membohongi diri, seperti riset atau kerja. Tapi saya tahu itu distraksi.

  3. Mengendalikan pengeluaran. Media sosial sekarang mencari keuntungan dengan berjualan. Semua orang terlibat dalam era social media commerce: di mana media sosial tidak lagi hanya jadi tempat bersosialisasi, melainkan tempat orang berbelanja dan menjajakan barang.

  4. Mengurangi rasa cemas. Rasa stres yang saya alami memang berasal dari situasi kerja saat ini. Namun menjadikan media sosial sebagai media eskapisme bukanlah solusi yang baik. Alih-alih senang, saya malah jadi lebih sering cemas dan lebih sering mendistraksi diri. Dengan "memaksa" diri untuk melakukan hal lain, diharapkan kepala saya juga lebih tenang. 1

  5. Bagian dari perencanaan awal tahun. Saya nggak merayakan tahun baru, tapi suka nggak suka, pergantian tahun memang jadi momen yang pas untuk memulai bab baru. Rasanya seperti didukung semesta dan masyarakat sekitar yang ikut jadi penanda.

Langkah-langkah yang dilakukan

  1. Uninstall aplikasi media sosial yang saya punya dari ponsel, kecuali Instagram (karena saya pakai untuk bekerja).

  2. Log out/deaktivasi akun media sosial ini baik dari ponsel maupun laptop: Facebook, Threads, Twitter, Instagram, dan TikTok.

  3. Hanya gunakan akun instagram yang khusus untuk kerja. Lain tidak.

  4. Hanya login Threads untuk update postingan blog atau tulisan yang memang sudah direncanakan sebelumnya.

  5. YouTube boleh tetap ada di ponsel, namun shorts tidak boleh digunakan. YouTube masih digunakan untuk bekerja.

Hal yang ingin saya lakukan (alih-alih doomscrolling)

Daftar ini akan saya jadikan referensi kalau saya bingung mau ngapain. Gak bingung sih harusnya.

  1. Nulis blog (tentu). Selama menulis artikel ini, berkali-kali saya mendistraksi diri dengan membuka tab browser lain. Karena media sosial pribadi kebanyakan sudah di-logout, jadinya nggak terbuka dan lanjut nulis lagi. Di sini saya baru sadar kalau insting membuka media sosial sudah masuk ke alam bawah sadar saya.

  2. Perencanaan untuk tahun depan. Proyek yang mau dilakukan personally, perencanaan keuangan secara garis besar, riset desain untuk ruangan di rumah yang belum proper (ruang makan), dan banyak lainnya.

  3. Decluttering. Kemarin saya sudah beresin sudut kamar depan yang fungsinya jadi mirip gudang. Selanjutnya ingin terus declutter ke area lain rumah, seperti lemari dapur atau lemari pakaian.

Tulisan ini akan selesai abruptly karena ya, nggak ada insight apa-apa dari pos ini. Saya sekadar melapor dan menulis sebagai bentuk komitmen, supaya saya ingat pernah janji begini dan menandai dimulainya eksperimen kali ini.

Wish me luck... atau ada yang mau ikutan juga? πŸ˜†

Mega


send your thoughts via email.

  1. Kalau kepala saya masih susah untuk tenang, sepertinya saya harus kembali booking jadwal konsultasi dengan psikolog.

#2025 #ID #Mindful Living #wellbeing